Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Gaya Hidup

Mengenal Tirto Adi Soerjo Bapak Pers Indonesia

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 27 Oktober 2026 · 19:491 menit baca
Mengenal Tirto Adi Soerjo Bapak Pers Indonesia
Mengenal Tirto Adi Soerjo sosok Bapak Pers Indonesia pendiri Medan Prijaji yang mempelopori jurnalistik bumiputera di masa kolonial. (Dok. Ist)

Raden Mas Djokomono Tirto Adi Soerjo mencatatkan namanya dalam sejarah nasional sebagai perintis industri penerbitan dan jurnalistik bumiputera. Sosoknya diakui secara resmi sebagai Bapak Pers Indonesia atas perannya mendirikan surat kabar Medan Prijaji pada 1907 di Bandung, Jawa Barat.

Penerbitan Medan Prijaji menjadi tonggak penting perjalanan pers nasional karena seluruh proses pengelolaan, pencetakan, hingga pengiklanan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pribumi. Surat kabar tersebut menggunakan bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi massa guna mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Keberanian tulisan-tulisan Tirto Adi Soerjo yang tajam dalam membela hak-hak rakyat membuatnya berulang kali berhadapan dengan sanksi pengasingan oleh otoritas kolonial. Langkah perjuangannya tidak hanya terbatas pada dunia jurnalistik, tetapi juga meluas ke ranah pergerakan nasional dengan mendirikan Sarekat Dagang Islamiyyah.

Metode jurnalistik yang diusungnya mengombinasikan pemberitaan faktual dengan pembelaan hukum gratis bagi warga miskin yang mengalami ketidakadilan sosial. Warisan pemikirannya di bidang jurnalistik terus menjadi fondasi etika pers yang mengedepankan keberpihakan pada kebenaran.

5 Fakta Menarik jika Media Pemberitaan Dijalankan Seperti Bajak Laut Shirohige di One Piece
Baca Juga

5 Fakta Menarik jika Media Pemberitaan Dijalankan Seperti Bajak Laut Shirohige di One Piece

Kisah hidup serta perjuangannya dalam membakar semangat kebangsaan lewat tinta dan kertas menjadi inspirasi utama penulisan novel sejarah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer melalui karakter Minke. Pers Indonesia menetapkan gagasannya sebagai tonggak lahirnya jurnalistik modern yang berorientasi pada perjuangan rakyat.

(Dayank Ana)