Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

AI & Future Work

Bagaimana Artificial Intelligence Mengubah Dunia Film

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Minggu, 25 Oktober 2026 · 16:253 menit baca
Bagaimana Artificial Intelligence Mengubah Dunia Film
Poster resmi film eksperimental buatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bertajuk Sanxingdui: Future Record yang memadukan unsur mitologi kuno Sanxingdui dengan lanskap fiksi ilmiah masa depan.

Pernahkah Anda membayangkan sebuah film layar lebar diproduksi penuh tanpa kamera, naskah, bahkan tanpa aktor manusia di lokasi syuting? Pertanyaan ini tidak lagi berada di alam fiksi ilmiah.

Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tengah merombak lanskap industri sinema global dari akar-akarnya menghadirkan kombinasi antara efisiensi luar biasa dan kecemasan eksistensial bagi para kreatornya.

Sentuhan Ajaib di Balik Layar: Efisiensi vs Kemudahan

Di satu sisi, kehadiran AI menjadi angin segar bagi efisiensi produksi. Di dunia anime Jepang yang kerap disorot karena isu jam kerja ekstrem, studio seperti KNK Design Studio mulai memanfaatkan AI untuk proses in-betweening mengisi gerak transisi antar-frame.

Tugas pewarnaan dan pergerakan yang biasanya memakan waktu satu minggu untuk 50 gambar warna, kini berkat bantuan AI dapat dirampungkan hanya dalam sehari menggunakan dua gambar saja.

RUU Hak Cipta AI dan Perpres Tata Kelola Harus Sinkron
Baca Juga

RUU Hak Cipta AI dan Perpres Tata Kelola Harus Sinkron

Di Hollywood, teknologi pengeditan AI juga kian lazim dipakai untuk efek penuaan atau rejuvenasi visual. Aktor kawakan Tom Hanks, misalnya, tampil jauh lebih muda secara presisi dalam film Here berkat teknologi manipulasi digital berbasis AI.

Tak berhenti di situ, dalam film-film berkelas penghargaan seperti Emilia Pérez, AI dimanfaatkan untuk memoles vokal nyanyian, sementara pada film The Brutalist, AI membantu melatih dan menyempurnakan aksen Hungaria aktor Adrien Brody.

Revolusi Sinema Murah: Film Tanpa Kamera Pertama di Festival Dunia

Lompatan paling ekstrem dari fenomena ini ditunjukkan oleh sutradara muda asal Tiongkok, Yiwen Cho.

Lewat filmnya berjudul What’s Next, ia mencetak sejarah sebagai pembuat film AI pertama yang berhasil menembus ajang bergengsi Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2025.

AI Bisa Prediksi Risiko Amputasi Kaki Penderita Diabetes 3-5 Tahun Sebelumnya, Ini Cara Kerjanya
Baca Juga

AI Bisa Prediksi Risiko Amputasi Kaki Penderita Diabetes 3-5 Tahun Sebelumnya, Ini Cara Kerjanya

Tanpa kamera, tanpa naskah awal, dan tanpa aktor, Yiwen hanya mengetikkan perintah (*prompt*) pada perangkat lunak generator AI Runway.

Dalam waktu satu minggu kerja mandiri, ia menghasilkan lebih dari 20.000 klip video pendek yang kemudian dirangkai menjadi film utuh bertema kritik sosial dan iklim.

Bagi pembuat film independen berskala anggaran terbatas, AI membuka pintu kesempatan yang sebelumnya tertutup rapat oleh tingginya biaya produksi konvensional.

Sisi Gelap: Isu Hak Cipta, Peniruan Gaya, dan Aksi Mogok Massal

Namun, di balik kemudahannya, AI memicu gelombang perlawanan hebat. Masalah utama bersumber dari metode pelatihan model AI yang kerap menggunakan ribuan materi berhak cipta tanpa izin kreator aslinya.

Kasus tren meme bergaya studio anime ternama Studio Ghibli yang marak di media sosial pada awal 2026 menjadi salah satu pemantik perdebatan sengit mengenai pencurian identitas artistik.

Raksasa hiburan seperti Disney dan Universal bahkan telah menempuh jalur hukum dengan menggugat perusahaan AI Midjourney atas dugaan rekreasi karakter secara ilegal.

Dewan Pers Usulkan Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk RUU Hak Cipta
Baca Juga

Dewan Pers Usulkan Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk RUU Hak Cipta

Ketakutan akan kehilangan mata pencaharian juga membayangi para pekerja seni. Di Jepang, survei mencatat 60% seniman khawatir kehilangan pekerjaan dan 90% mengkhawatirkan pelanggaran hak cipta akibat AI.

Kondisi serupa memicu aksi mogok kerja berskala masif di Amerika Serikat pada pertengahan 2023, di mana lebih dari 150.000 aktor dan penulis skenario yang tergabung dalam serikat pekerja Hollywood menghentikan produksi selama berbulan-bulan.

Mereka menuntut perlindungan hukum dari ancaman penggantian peran oleh replika digital serta naskah buatan AI. Sementara itu di Bollywood, aktor Anil Kapoor berhasil memenangkan gugatan hukum pelarangan reproduksi nama, wajah, dan suaranya oleh AI tanpa izin eksplisit.

Refleksi Sinema: Menatap Masa Depan Hubungan Manusia dan Mesin

Secara historis, penggambaran AI dalam karya film itu sendiri seperti robot Robby the Robot dalam Forbidden Planet (1956), komputer jahat, hingga AI Samantha dalam film Her selalu mencerminkan kecemasan manusia terhadap hilangnya kendali atas teknologi.

Pakar AI dan industri film menilai bahwa terlepas dari turbulensi hukum dan ketenagakerjaan yang sedang berlangsung, AI tidak akan sepenuhnya memusnahkan peran manusia.

AI diposisikan sebagai alat bantu penghemat waktu dan pemantik gagasan, namun rasa emosional, kurasi cerita, dan evaluasi hasil akhir yang unik tetap memerlukan sentuhan mendasar dari jiwa seorang manusia.

Industri film global kini berada di persimpangan jalan: menyusun regulasi hukum yang adil dan transparan agar kemajuan teknologi dapat berjalan seiring tanpa mengorbankan harkat para seniman pembuatnya.

Lindungi Karya Jurnalistik, Pemerintah Desak Regulasi Hak Cipta Era Digital
Baca Juga

Lindungi Karya Jurnalistik, Pemerintah Desak Regulasi Hak Cipta Era Digital

(Toni)

https://www.instagram.com/p/Dc3txr-jZI3/?utm_source=ig_web_copy_link&rpxt=MzRlODBiNWFlZA==&srtk=MzRlODBiNWFlZA==