Bagi jutaan penderita diabetes, ancaman amputasi kaki bukan sekadar komplikasi medis ini adalah kehilangan yang mengubah seluruh hidup. Kini, sebuah model kecerdasan buatan bernama LEA-Net hadir dengan klaim yang cukup mengejutkan: mampu memprediksi risiko amputasi tungkai bawah tiga hingga lima tahun sebelum luka atau infeksi pertama kali muncul.
Model ini dikembangkan bersama oleh Singapore General Hospital (SGH), SingHealth, dan MOH Office for Healthcare Transformation (MOHT).
Selama ini, banyak pasien diabetes baru mencari bantuan medis ketika luka atau infeksi sudah terlanjur muncul dan pada titik itu, risiko amputasi sudah jauh lebih tinggi. LEA-Net membalik pendekatan itu.
Model ini menggolongkan pasien ke dalam kategori risiko rendah dan tinggi, memungkinkan tim medis melakukan intervensi lebih awal sebelum terjadi kerusakan jaringan permanen. Hasilnya, waktu tunggu pasien untuk mendapatkan penanganan spesialis vaskular pun bisa dipangkas.
Baca Juga RUU Hak Cipta AI dan Perpres Tata Kelola Harus Sinkron
LEA-Net dikembangkan menggunakan lebih dari 830.000 rekam medis anonim pasien SingHealth, mencakup data demografi, kondisi klinis, dan hasil pemeriksaan medis. Sekitar 250.000 rekam medis digunakan untuk validasi.
Model ini menunjukkan tingkat sensitivitas hampir 80 persen dan spesifisitas mendekati 90 persen melampaui performa sejumlah model prediksi serupa yang sudah ada.
Di Singapura, hampir sembilan dari sepuluh pasien yang menjalani amputasi tungkai bawah diketahui menderita diabetes. Sekitar 85 persen kasus amputasi juga diawali dari luka pada kaki yang tidak tertangani tepat waktu.
Dampaknya tidak hanya fisik. Amputasi memengaruhi mobilitas, kemandirian, hubungan sosial, hingga kondisi psikologis pasien.
Baca Juga Dewan Pers Usulkan Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk RUU Hak Cipta
Dari sisi biaya, intervensi tahap awal rata-rata membutuhkan sekitar 25.000 dolar AS, sementara penanganan tahap lanjut bisa mencapai 40.000 hingga 50.000 dolar AS per pasien. Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan kaki tapi juga jauh lebih hemat.
LEA-Net telah meraih People’s Choice Award dalam ajang International Consortium for Health Outcomes Measurement Conference 2025 di Dublin, Irlandia. Tim pengembang kini tengah menjalani studi percontohan untuk memvalidasi efektivitas klinis model ini lebih lanjut menggunakan data dari Diabetes Registry SingHealth.
Jika berhasil, LEA-Net bisa menjadi penanda pergeseran besar dalam cara dunia medis mendekati diabetes dari reaktif menjadi prediktif, dari mengobati menjadi mencegah.
(Hendra)