Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Gaya Hidup

Melihat Maraknya UMKM sebagai Cermin Keterbatasan Lapangan Kerja

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Jumat, 23 Oktober 2026 · 21:231 menit baca
Melihat Maraknya UMKM sebagai Cermin Keterbatasan Lapangan Kerja
Mengulas fenomena maraknya UMKM dari sudut pandang dinamika ketenagakerjaan serta kaitannya dengan ketersediaan lapangan kerja formal. (Dok. Ist)

Tingginya jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia kerap diangkat ke publik sebagai simbol kemandirian ekonomi masyarakat. Lapak kuliner rumahan, coffee shop kekinian, hingga toko daring marak bermunculan di berbagai sudut kota. Namun, di balik narasi keberhasilan wirausaha tersebut, terdapat fenomena sosial yang mengindikasikan ketersediaan lapangan kerja formal yang belum memadai dari pemerintah.

Pertumbuhan sektor UMKM tidak selalu lahir dari dorongan inovasi atau minat berwirausaha semata. Bagi sebagian besar masyarakat, membuka usaha mandiri menjadi pilihan realistis untuk bertahan hidup ketika ketersediaan lapangan kerja di sektor formal kian terbatas.

Berikut beberapa faktor yang melatarbelakangi fenomena maraknya UMKM dari sudut pandang dinamika ketenagakerjaan:

1. Dominasi Necessity Entrepreneurship
Banyak pelaku usaha baru tergolong sebagai necessity entrepreneur atau wirausahawan karena keadaan. Langkah membuka usaha diambil bukan karena melihat peluang bisnis yang menjanjikan, melainkan akibat ketiadaan pilihan pekerjaan formal yang mampu menyerap angkatan kerja.

Mengurai Perdebatan Biaya Hidup vs Gaya Hidup yang Ramai di Media Sosial
Baca Juga

Mengurai Perdebatan Biaya Hidup vs Gaya Hidup yang Ramai di Media Sosial

2. Ketidakseimbangan Laju Angkatan Kerja dan Lowongan Kerja
Kelulusan dari lembaga pendidikan setiap tahunnya terus menambah jumlah pencari kerja. Ketika pembukaan lapangan kerja sektor formal tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja, masyarakat terdorong menciptakan peluang ekonominya sendiri melalui sektor informal.

3. Pergeseran ke Sektor Ekonomis Informal
Sektor UMKM berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja alternatif saat daya serap industri besar mengalami penurunan. Kondisi ini menjaga tingkat partisipasi kerja tetap ada, meskipun dengan tingkat kepastian pendapatan dan perlindungan tenaga kerja yang berbeda dibanding sektor formal.

Memahami maraknya UMKM secara objektif membantu melihat gambaran utuh kondisi ketenagakerjaan. Penguatan sektor UMKM perlu berjalan beriringan dengan penyediaan lapangan kerja formal yang stabil demi menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

(Tony)