Kartu tanda anggota Polri dan KTP Kota Depok yang ditampilkan dalam video pertempuran di Ukraina. (Dok. Instagram/@belarusiancorps)
Belarusian Volunteer Corps, kelompok sukarelawan Belarusia yang bertempur di bawah komando militer Ukraina, merilis video pertempuran berformat sudut pandang orang pertama (first person POV) melalui akun Instagram resminya pada Rabu (14/10/2026).
Di akhir video, kelompok itu menampilkan sejumlah dokumen identitas yang disebut milik tentara Rusia yang tewas, termasuk dokumen yang tampak seperti paspor Indonesia, kartu tanda anggota (KTA) Polri, dan KTP.
Video itu merekam penyergapan dan baku tembak dengan pasukan Rusia di area hutan di wilayah konflik Ukraina.
Setelah adegan pertempuran, video menayangkan foto-foto jenazah dan dokumen identitas yang ditemukan di lokasi. Nama dan sebagian data pada dokumen itu dikaburkan.
Dalam keterangan video, kelompok itu menyebut mereka bertugas di batalion yang bernaung di bawah brigade serbu ke-3 Ukraina, dengan akun @hatred.battalion dan @ab3.brigade.
Mereka menggambarkan pekerjaan mereka sebagai pengintaian dan penghancuran pasukan Rusia. Pertempuran disebut terjadi di sekitar desa Nove dan Katerynivka, Ukraina.
Mereka mengaku menemukan di antara pasukan Rusia yang tewas sejumlah komandan peleton dan kompi pengintai, serta orang-orang dari “berbagai benua”.
Mereka juga menyebut seorang warga negara Belarusia. Keterangan itu tidak menyebut Indonesia atau warga negara Indonesia secara eksplisit.
Kaitan dokumen Indonesia dengan korban hanya terlihat dari tayangan video.
Keterangan video juga memuat bahasa yang merendahkan terhadap lawan.
Kelompok itu menyatakan tidak berminat pada pertukaran tawanan selama tiga sukarelawan Belarusia, yang mereka sebut dengan nama, belum masuk daftar pertukaran.
Mereka juga mengajak warga Belarusia yang bertugas di militer Belarusia untuk ikut menyerang pasukan Rusia dan sekutunya. Video ditutup dengan seruan “Slava Ukraini! Belarus pertama-tama”.
Prajurit Belarusian Volunteer Corps berhelm dan berkamuflase daun berbicara di depan kamera di hutan Ukraina. (Dok. Instagram/@belarusiancorps)
Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri RI, Polri, maupun otoritas lain mengenai keaslian dokumen, identitas pemilik, atau status kewarganegaraannya.
Klaim kelompok tersebut juga belum diverifikasi secara independen. Belum jelas pula apakah paspor, KTA, dan KTP itu milik satu orang atau lebih.