Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Ekonomi

Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Jumat, 23 Oktober 2026 · 09:212 menit baca
Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tidak gentar hadapi MSCI, sementara Banggar DPR menyebut MSCI bukan lembaga yang kebal kritik. (Dok. Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak akan gentar menghadapi ancaman serta tekanan dari lembaga penyedia indeks bursa global Morgan Stanley Capital International (MSCI), Kamis, (22/10/2026). Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna bertepatan dengan dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Penegasan mengenai ketahanan serta keberanian nasional dalam menghadapi dinamika pasar keuangan global diutarakan oleh Presiden Prabowo.

“Kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak, kita terus diadang, ada apa itu? Macam-macam lah. MSCI, macam-macam. Dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapapun, dan tidak akan gentar,” kata Prabowo.

Pentingnya semangat pantang menyerah serta kesiapan pemerintah untuk melakukan penghematan anggaran secara masif ditegaskan lebih lanjut oleh Kepala Negara.

Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Rp 18.120 per Dolar AS Tertekan Isu MSCI dan Geopolitik
Baca Juga

Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Rp 18.120 per Dolar AS Tertekan Isu MSCI dan Geopolitik

“Saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah. Kalau perlu, kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti,” ucap Prabowo.

Tekanan dari MSCI bermula ketika lembaga tersebut mengumumkan rencana konsultasi resmi guna menguji potensi penurunan status bursa saham Indonesia dari emerging market menjadi stand-alone market akibat isu keterbukaan struktur kepemilikan dan konsentrasi saham. Pengumuman tersebut memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,6 persen pada Jumat (16/10/2026) hingga menghapus kapitalisasi pasar sekitar Rp 1.528 triliun, sebelum kembali terkoreksi 3,64 persen ke level 4.996,00 pada Senin (19/10/2026).

Merespons gejolak pasar modal tersebut, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah menilai bahwa koreksi MSCI memang perlu dijadikan bahan evaluasi, namun posisi lembaga internasional tersebut tidak kebal dari pandangan kritis.

“Yang pasti, MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi yang memiliki otoritas tunggal dan paling sempurna. Karena itu, kita (Indonesia) juga boleh kritis terhadap mereka. Relasi resiprokal yang saling kritis ini saya kira justru baik untuk kedua belah pihak,” ujar Said.

Prabowo Soroti Kebocoran SDA, Perintahkan Ekspor Komoditas Satu Pintu Lewat Danantara
Baca Juga

Prabowo Soroti Kebocoran SDA, Perintahkan Ekspor Komoditas Satu Pintu Lewat Danantara

Langkah adaptif Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan yang telah menaikkan batas free float secara bertahap serta menjatuhkan ratusan sanksi disayangkan oleh Said lantaran tidak mendapat respons positif.

“Pertanyaannya, kenapa langkah itu tidak ada apresiasi secuilpun dari MSCI?” kata Said.

Sementara itu, dugaan adanya intervensi dari institusi investasi asal Singapura seperti Temasek dan GIC untuk menekan MSCI dipaparkan oleh mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

“Tiba-tiba lembaga indeks global MSCI mengeluarkan ancaman mau menurunkan kasta pasar modal Indonesia dari emerging market langsung ke kasta terendah standalone market. Anda tahu apa syarat sebuah negara dimasukkan ke standalone market? Itu kasta untuk negara yang menerapkan capital control,” kata Lutfi.

Pertanyaan mengenai kejanggalan ancaman penurunan status bursa nasional yang tidak menerapkan pembatasan arus modal diutarakan kembali oleh Lutfi sebelum mengakhiri analisisnya.

“Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan, saya dapat kabar langsung di dalam Rachel Khoo di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan,” tutur Lutfi.

(Tony)