Tampilan pameran karya Putu Sutawijaya yang memperlihatkan dua lukisan “Dari Batu Kembali ke Batu” di dinding magenta dan lima patung kecil “Para Penggali” di atas plinth putih. (Dok. ICAD 16)
Pelukis Putu Sutawijaya menghadirkan sepasang lukisan dan lima patung kecil yang mengangkat perjuangan warga Gunung Merapi menghadapi bencana sekaligus bergantung pada batu.
Karya-karya itu dipamerkan dalam kategori In Focus di Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 16, di Grandkemang Hotel Jakarta, Jakarta Selatan, pada 8 Oktober hingga 8 November 2026.
Dua karya tersebut adalah lukisan Dari Batu Kembali ke Batu (2021) dan patung Para Penggali (2025).
Dari Batu Kembali ke Batu dibuat dengan akrilik di atas kanvas berukuran 140 x 120 cm sebanyak dua panel.
Para Penggali berupa lima patung berbahan kuningan dan batu kali, masing-masing berukuran 20 x 13 x 24 cm.
Patung kuningan “Para Penggali” karya Putu Sutawijaya yang menggambarkan sosok manusia memikul dan memeluk batu besar. (Dok. ICAD 16)
Dalam keterangan karya, Para Penggali disebut menampilkan sosok manusia biasa yang tengah bersusah payah mengangkat sebuah batu besar.
Lima patung itu menggambarkan perjuangan warga Merapi yang bertaruh nasib di lereng-lereng sungai, antara tambang tradisional dan perusahaan besar.
Bagi mereka, setiap longsoran lava membawa pasir dan batu yang membawa berkah, sehingga rezeki datang dari perut gunung yang juga menjadi sumber bencana.
Adapun dua lukisan Dari Batu Kembali ke Batu memperlihatkan manusia yang selalu berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu membangun dan menghancurkan.
Dalam keterangan karya, batu disebut sebagai salah satu ukuran kemampuan manusia mengolah alam, dan perkakas yang dipakai membentuknya juga dapat meruntuhkannya.
Di antara proses itu hadir dua figur simbolik dalam lukisan, Garuda dan Barong.
Garuda membawa kisah perjalanan menuju moksa, yakni saat manusia harus melepaskan ikatan duniawi untuk mencapai pembebasan.
Barong hadir sebagai roh pelindung. Bersama sosok manusia dan batu, keduanya memperluas persoalan membangun dan menghancurkan menjadi pergulatan manusia dengan keterikatan, perlindungan, dan pembebasan.
Dalam tampilan pameran, dua lukisan itu digantung berdampingan di dinding berwarna magenta. Kelima patung emas kecil berdiri di atas plinth putih di antara keduanya, masing-masing memanggul atau memeluk sebongkah batu.
Putu Sutawijaya lahir di Tabanan pada 1970 dan belajar seni lukis di ISI Yogyakarta pada 1991–1998. Ia dikenal lewat karya figuratif dan goresan tinta Cina yang ekspresif.
Potret pelukis Putu Sutawijaya pada kategori In Focus di pameran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 16, Grandkemang Hotel Jakarta. (Dok. ICAD 16)
Pengakuannya meluas lewat Looking for Wings (2002), yang pelelangannya pada Mei 2007 menjadi momen bersejarah dalam seni kontemporer Indonesia. Sejak 2009, ia juga melukis langsung di kuil, gunung, dan pesisir pantai.
ICAD 16 mengusung tema Being: Becoming dan menampilkan lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif dari 12 negara. Kurator ICAD 16, Putra Hidayatullah, menyebut proses menjadi sebagai upaya bernegosiasi dengan kekuatan yang membentuk manusia. Selain Putu Sutawijaya, kategori In Focus juga menampilkan Ahmet Öğüt, Didi Budiardjo, dan Iswanto Hartono.