Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Antisipasi Ancaman Kekeringan, Pemkot Samarinda Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

Memei
Memei
Selasa, 15 September 2026 · 12:071 menit baca
Antisipasi Ancaman Kekeringan, Pemkot Samarinda Gelar Operasi Modifikasi Cuaca
Antisipasi ancaman kekeringan dan krisis air bersih, Pemkot Samarinda gelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari terhitung 15-19 September 2026. (Dok. Ist)

Pemerintah Kota Samarinda menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari terhitung mulai 15 hingga 19 September 2026 guna mengantisipasi ancaman kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Selasa, (15/9/2026).

Penerapan teknologi penyemaian awan tersebut dijalankan setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WITA pada ketinggian jelajah 8.000 hingga 12.000 kaki, dengan koordinasi bersama otoritas Bandara APT Pranoto, AirNav Indonesia, dan Lanud Dhomber Balikpapan. Langkah percepatan penanggulangan dampak kemarau panjang dipaparkan oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun, melalui keterangan tertulisnya.

“Kita menghadapi kemarau panjang dengan seluruh instrumen yang tersedia. Satgas terpadu kita gerakkan untuk karhutla, distribusi air bersih, perlindungan pertanian dan pengendalian inflasi. Kita melaksanakan Salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual, melakukan water bombing ketika dibutuhkan, dan sekarang memperkuat ikhtiar berbasis teknologi melalui Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Andi Harun, Selasa, (15/9/2026).

Pengerahan operasi udara tersebut disokong oleh Satuan Tugas Terpadu yang beranggotakan unsur TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, serta kelompok relawan kemanusiaan. Prinsip antisipasi dini dalam tata kelola kedaruratan bencana ditekankan lebih lanjut dalam pernyataannya.

Tinjau Bukit Tengkorak, Kepala BNPB Tegaskan Penanganan Karhutla IKN Prioritas Instruksi Presiden
Baca Juga

Tinjau Bukit Tengkorak, Kepala BNPB Tegaskan Penanganan Karhutla IKN Prioritas Instruksi Presiden

“Ikhtiar kita lengkap: manusia bekerja, teknologi digunakan, koordinasi diperkuat, dan kepada Allah SWT kita memohon pertolongan. Pemerintah tidak boleh menunggu keadaan menjadi darurat baru kemudian bergerak,” tegasnya.

Selain operasi rekayasa cuaca, skema penanganan kemarau di Samarinda difokuskan pada distribusi pasokan air bersih bagi permukiman terdampak, proteksi lahan pertanian, operasi pasar demi menjaga stabilitas inflasi bahan pokok, serta penyiagaan armada pengebom air (water bombing).

Warga turut diimbau menghemat pemakaian air, mengamankan cadangan air baku yang tersisa, menghindari aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan terbuka, serta segera melaporkan indikasi kemunculan titik api kepada aparat terkait.

(Memei)