Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Kabut Asap Picu Kenaikan Infeksi Paru Berat di RSUD Soedarso Pontianak

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 26 September 2026 · 15:051 menit baca
Kabut Asap Picu Kenaikan Infeksi Paru Berat di RSUD Soedarso Pontianak
RSUD dr. Soedarso Pontianak catat kenaikan kasus infeksi paru berat (pneumonia) dampak kabut asap karhutla; Dirut Hary Agung pastikan daya tampung medis terkendali. (Dok. RSUD dr. Soedarso)

Dampak kebakaran hutan dan lahan mulai memicu pergeseran tren penyakit pernapasan yang lebih serius di Kalimantan Barat. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso mencatat adanya peningkatan signifikan pada kasus infeksi paru berat atau pneumonia selama periode puncak kemarau, yang bergulir sejak awal Agustus hingga akhir September.

Direktur Utama RSUD dr. Soedarso Pontianak, Hary Agung Tjahyadi, pada saat ditemui setelah kegiatan peresmian RS Mata Ayani memaparkan bahwa berdasarkan data survei epidemiologi rumah sakit pada minggu ke-32 hingga ke-37, terjadi pergerakan kasus pernapasan yang patut menjadi atensi. Meski kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara umum tampak fluktuatif tanpa lonjakan ekstrem, fasilitas kesehatan rujukan Tipe A ini justru mulai menerima pasien dengan tingkat infeksi yang jauh lebih berat.

“Kalau dari kita lihat data epidemiologi dari minggu ke-32 sampai ke-37, dari dampak karhutla memang ada beberapa penyakit yang kita identifikasi dan kita lihat perkembangannya,” ujar Hary Agung, Sabtu (26/9/2026).

Ia menjelaskan ketiadaan lonjakan ISPA di RSUD dr. Soedarso lebih dikarenakan kasus-kasus ringan masih tertangani dengan baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik pratama. Namun, ancaman sebenarnya bergeser pada infeksi yang mengancam paru-paru.

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis
Baca Juga

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis

“Memang ada pergerakan peningkatan untuk pneumonia. Pneumonia ini sebenarnya infeksi paru, tapi juga bisa diidentifikasi bahwa diagnosanya bisa bergeser, artinya yang kami layani adalah infeksi yang semakin berat,” tegasnya.

Kendati kurva kasus infeksi paru menunjukkan tren pendakian, Hary memastikan kapasitas penanganan medis di RSUD dr. Soedarso masih sepenuhnya terkendali. Ia menekankan bahwa situasi saat ini belum masuk dalam kategori krisis kapasitas layanan.

“Memang menunjukkan ada peningkatan kasus-kasus pneumonia di Rumah Sakit Soedarso, tetapi sekali lagi masih dalam kondisi yang bisa kita berikan pelayanan dengan baik. Artinya belum merupakan satu lonjakan yang tinggi, ada peningkatan tapi bukan kategori lonjakan,” tutupnya.

(Hendrawan)