Lima desa di Sanggau bahas kesiapan kunjungan tim lapangan Proyek FOLUR lewat sesi PADIATAPA, Rabu (28/10/2026). Sesi ditutup dengan penandatanganan berita acara persetujuan. (Dok. Fahutan Untan)
Perwakilan lima desa di Kabupaten Sanggau menyampaikan pandangan dan membahas kesiapan kunjungan tim lapangan dalam sesi Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA). Sesi itu digelar dalam rangkaian kick off meeting Proyek FOLUR, Rabu (28/10/2026), sebagai bagian persiapan pengumpulan data untuk penyusunan rencana aksi pengelolaan potensi areal preservasi berkelanjutan.
Perwakilan lima desa menyampaikan pandangan dan membahas kesiapan kunjungan tim lapangan lewat sesi PADIATAPA dalam kick off meeting Proyek FOLUR, Rabu (28/10/2026). (Dok. Fahutan Untan)
Lima desa yang terlibat adalah Pusat Damai di Kecamatan Parindu, Pandan Sembuat di Kecamatan Tayan Hulu, serta Sami, Empodis, dan Bantai di Kecamatan Bonti. Sesi dipandu Erianto dengan pembahasan mengenai tujuan kunjungan, kebutuhan informasi, kondisi desa, dan pengaturan kegiatan bersama masyarakat.
Perwakilan desa mendapat ruang menyampaikan pertanyaan, harapan, dan kekhawatiran sebelum tim melakukan pendalaman lapangan. Pembahasan mencakup kejelasan tujuan survei, kecocokan peta dengan kondisi setempat, serta manfaat pengelolaan sumber daya bagi warga.
Desa Empodis mengangkat kebutuhan manfaat ekonomi serta pengembangan usaha olahan rebung bambu yang memerlukan pelatihan dan dukungan pemasaran. Masukan itu akan menjadi bahan kajian penghidupan dan penelusuran peluang kemitraan sesuai potensi desa.
Desa Bantai meminta pengaturan kunjungan memperhatikan agenda adat dan keagamaan setempat. Koordinasi lanjutan dengan perangkat desa diperlukan agar waktu kunjungan sesuai kesiapan masyarakat.
Ketua Tim Fakultas Kehutanan Untan, Gusti Hardiansyah, menjelaskan penggalian data perlu memahami praktik dan pengetahuan lokal. Informasi mengenai tembawang, sumber air, kawasan yang dijaga adat, serta kebutuhan penghidupan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyusunan rekomendasi.
Tim akan melakukan wawancara, diskusi, pengumpulan data, dan verifikasi lapangan. Pemerintah desa membantu komunikasi dengan warga serta menghubungkan tim dengan tokoh dan kelompok masyarakat yang relevan. Pelibatan perempuan juga menjadi perhatian dalam penggalian informasi.
Sesi dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara persetujuan terkait kunjungan dan pengumpulan data yang dibahas dalam forum. Pengaturan teknis dan komunikasi kunjungan akan ditindaklanjuti bersama masing-masing desa.
Masukan kelima desa akan dipakai menyusun rencana aksi yang mempertimbangkan kondisi ekologis, hubungan masyarakat dengan lahan, dan kebutuhan pengelolaan setempat. Proses ini melibatkan Tim Proyek FOLUR Kementerian Kehutanan, Fakultas Kehutanan Untan, pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan mitra pembangunan.