Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Fahutan Untan Siapkan Kajian Lapangan di Lima Desa untuk Rencana Aksi Areal Preservasi

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 4 November 2026 · 10:092 menit baca
Fahutan Untan Siapkan Kajian Lapangan di Lima Desa untuk Rencana Aksi Areal Preservasi
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menyiapkan kajian lapangan di lima desa untuk menyusun rencana aksi areal preservasi di Kabupaten Sanggau, dibahas dalam kick off meeting Proyek FOLUR, Rabu (28/10/2026). (Dok. Fahutan Untan)

Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) menyiapkan penggalian data dan kajian lapangan di lima desa untuk mendukung penyusunan rencana aksi pengelolaan potensi areal preservasi berkelanjutan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Rencana kerja itu dibahas dalam kick off meeting Proyek FOLUR, Rabu (28/10/2026).

Dekan Fakultas Kehutanan UNTAN, Farah Diba, memberikan sambutan secara daring pada pembukaan kegiatan. Keterlibatan fakultas menjadi bagian dari kerja sama dengan para mitra untuk menghubungkan keilmuan kampus dengan kebutuhan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, hadir dan menyampaikan dukungan terhadap pengembangan areal preservasi. Ia menekankan pentingnya kerja sama pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra dalam menjaga hutan dari deforestasi, degradasi, serta kebakaran hutan dan lahan.

“Kami mendukung pengembangan areal preservasi. Kerja sama pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra penting dalam menjaga hutan dari deforestasi, degradasi, serta kebakaran hutan dan lahan,” kata Adi Yani.

Perwakilan Lima Desa di Sanggau Bahas Kesiapan Kunjungan Tim Lapangan Proyek FOLUR
Baca Juga

Perwakilan Lima Desa di Sanggau Bahas Kesiapan Kunjungan Tim Lapangan Proyek FOLUR

Ketua Tim Fakultas Kehutanan UNTAN, Gusti Hardiansyah, menjelaskan kajian akan memakai pendekatan pengelolaan lanskap terpadu. Perlindungan hutan, sumber air, dan habitat dipertimbangkan bersama penghidupan masyarakat, kegiatan produksi, serta kelembagaan pengelolaan.

“Kajian ini akan memakai pendekatan pengelolaan lanskap terpadu. Perlindungan hutan, sumber air, dan habitat kami pertimbangkan bersama penghidupan masyarakat, kegiatan produksi, serta kelembagaan pengelolaan,” kata Gusti Hardiansyah

Pendalaman direncanakan di Desa Pusat Damai, Kecamatan Parindu; Desa Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu; serta Desa Sami, Empodis, dan Bantai, Kecamatan Bonti. Kelima desa menjadi lokasi pengumpulan informasi dan verifikasi untuk mendukung rencana aksi pada skala kabupaten.

Tim akan menggali informasi melalui wawancara, diskusi kelompok, dan pemeriksaan kondisi lapangan bersama pihak terkait. Data yang dibutuhkan mencakup sumber air, hutan dan tembawang, habitat satwa, praktik perlindungan berbasis adat, potensi komoditas, serta hambatan pengelolaan yang dihadapi masyarakat.

Hujan Lebat Guyur Taman Nasional Tanjung Puting, Wisatawan Asing Kembali Susuri Habitat Orang Utan
Baca Juga

Hujan Lebat Guyur Taman Nasional Tanjung Puting, Wisatawan Asing Kembali Susuri Habitat Orang Utan

Gusti menekankan pentingnya mempelajari istilah dan praktik setempat agar rekomendasi sesuai konteks desa. Ia juga menyoroti keterlibatan perempuan serta pemanfaatan kelembagaan yang telah berjalan, seperti kelompok usaha dan koperasi.

Pertemuan itu menghimpun masukan mengenai kesesuaian peta, batas administrasi, status pengelolaan lahan, dan keterhubungan kajian dengan perencanaan daerah. Peta awal masih bersifat indikatif sehingga perlu dicocokkan dengan data pengelola kawasan dan informasi masyarakat.

Rudiono, perwakilan Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi Kementerian Kehutanan, memaparkan pentingnya perlindungan habitat dan konektivitas ekosistem.

“Perlindungan habitat dan konektivitas ekosistem sangat penting,” kata Rudiono, perwakilan Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi Kementerian Kehutanan.

Bupati Sanggau, melalui sambutan yang disampaikan Agus Sukanto, menyoroti perlunya menjaga fungsi ekologis sekaligus mengembangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pada sesi Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) yang dipandu Erianto, perwakilan kelima desa membahas rencana kunjungan, menyampaikan pandangan, dan mengoordinasikan kesiapan menerima tim. Sesi dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara persetujuan terkait kegiatan lapangan.

Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon, Terekam Camera Trap
Baca Juga

Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon, Terekam Camera Trap

Hasil pendalaman diharapkan menjadi masukan bagi dokumen rencana aksi, peta arahan, kajian pendukung, dan penguatan kerja sama para pihak.

(Hendrawan)