Sab, 27/06/26 · 14.46.28
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Tembus Batas Aksesibilitas, TEPELIMA 7 Hadirkan E-Book Ekoteologi Ramah Disabilitas Netra

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Sabtu, 27 Juni 2026 · 18:514 menit baca
Tembus Batas Aksesibilitas, TEPELIMA 7 Hadirkan E-Book Ekoteologi Ramah Disabilitas Netra
Aksi memukau Teater Tarantih saat menyemarakkan peluncuran buku elektronik inklusif ramah disabilitas netra pada acara TEPELIMA 7 di Kampung Caping, Pontianak, Jumat (26/6/2026). (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Agenda Temu Pemuda Lintas Iman (TEPELIMA) 7 Kalimantan Barat resmi meluncurkan buku elektronik (e-book) berbasis ekoteologi yang dirancang ramah bagi penyandang disabilitas. Peluncuran karya digital ini menjadi bagian dari puncak rangkaian acara perkemahan dan dialog yang digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Kota Pontianak, pada Jumat (26/6/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas SADAP Indonesia ini mengusung tema ‘Eco-Faith Leaders for a Better Future’ sebagai ruang untuk merawat toleransi, meminimalisir stigma, sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda inklusif dalam menjaga kelestarian bumi.

Inovasi Aksesibilitas bagi Disabilitas Netra
Ketua Panitia TEPELIMA 7, Ilham Dwi Wijaya, menjelaskan bahwa pemilihan format e-book tahun ini didasari oleh komitmen jajaran panitia untuk memperluas jangkauan pembaca agar lebih masif dan inklusif. Format digital dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pencetakan buku fisik tradisional dalam hal optimalisasi waktu dan efisiensi anggaran sumber daya.

Suarakan Hak Disabilitas, Dayta Keluhkan Layanan Publik yang Belum Optimal
Baca Juga

Suarakan Hak Disabilitas, Dayta Keluhkan Layanan Publik yang Belum Optimal

“Harapannya pengen bisa diakses oleh banyak orang dan bisa lebih inklusif begitu. Karena e-book yang kita buat itu sudah kami upayakan menggunakan alt text dan juga deskripsi gambar bagi teman-teman netra dan juga text-nya juga bisa digunakan, dibaca oleh screen reader begitu dan harapannya bisa lebih masif untuk tersebar daripada menggunakan fisik begitu. Selain juga untuk mengoptimalkan waktu dan juga budget ya sumber daya yang kami punya,” papar Ilham dalam wawancara kemarin.

Ilham menambahkan, melalui peluncuran ini, pihak penyelenggara mendorong adanya kesadaran kolektif dari instansi pemerintahan serta korporasi besar untuk membuka ruang kolaborasi nyata dengan para pegiat dan komunitas disabilitas.

“Selain itu harapan saya e-book ini bisa bermanfaat dan bisa diakses oleh banyak orang termasuk teman-teman disabilitas dan juga harapan kedepannya semoga kita semua masih bisa sama-sama resah terkait keadaan sekarang ya baik lingkungan dan juga pelibatan industri sosial begitu. Harapannya teman-teman instansi besar, pemerintahan bisa bekerjasama dengan pegiat disabilitas begitu untuk melibatkan teman-teman disabilitas dan juga komunitas kecil juga bisa bekerjasama dengan JBI [Juru Bahasa Isyarat] misalnya jika perlu bantuan untuk berkegiatan yang lebih impulsif,” tambahnya.

Cerita Arini Terapkan Pola Asuh Isyarat dan Komunikasi Visual Bersama Dua Anaknya
Baca Juga

Cerita Arini Terapkan Pola Asuh Isyarat dan Komunikasi Visual Bersama Dua Anaknya

Dukungan Kemenag dan Simbol Nusantara dalam Tarian
Perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak, Rakiman, menyampaikan penghargaan terhadap inisiatif para pemuda dari berbagai latar belakang suku, etnis, dan agama yang mampu menghasilkan luaran konkret pasca-perkemahan di Rumah Budaya Kampung Caping.

“Dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pemuda. Yang lintas iman, lintas latar belakang. Lalu bisa bersama-sama melaksanakan suatu perkemahan. Dan dari perkemahan itu mendapatkan banyak pengalaman, banyak ilmu. Yang disampaikan oleh para mentor dan pendamping. Sehingga pada waktunya, yaitu pada hari ini. Bisa launching sebuah buku elektronik. Dari pengalaman para peserta mengikuti kegiatan TP5 yang ketujuh di Kalimantan Barat,” kata Rakiman.

Panggung TEPELIMA 7 disemarakkan oleh rangkaian pertunjukan seni inklusif yang diawali dengan penampilan seni tarian tradisional oleh anak-anak dari Rumah Belajar Madani. Penampilan ini mendapat respons positif dari Rakiman, yang secara spesifik menyoroti perpaduan kostum kain para penari sebagai cerminan nyata dari kerukunan serta keberagaman Indonesia.

“Kerukunan ini nampak di tarian tadi. Saya perhatikan di mana nusantaranya. Rupanya di kain. Kainnya ada corak Sulawesi, corak Melayu, corak Dayak. Dan yang di pojok ini ada corak Jawa. Ada pakai kemben dan pakai kain. Kemudian, nah itu rupanya di kain. Saya perhatikan, oh kain. Ini simbolis kepada kita semua bahwa kita semua harus tetap sepakat. Dan menjaga bahwa kita semua adalah satu kesatuan dalam negara kesatuan Indonesia yang berwawasan nusantara,” jabar Rakiman.

Kemeriahan acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan teater oleh Teater Tarantih, serta ditutup dengan persembahan lagu yang dibawakan langsung oleh teman Tuli.

Tutup Mata Kuliah, Mahasiswa Manajemen UPB Pelajari Praktik Pengambilan Keputusan di Kadin Kalbar
Baca Juga

Tutup Mata Kuliah, Mahasiswa Manajemen UPB Pelajari Praktik Pengambilan Keputusan di Kadin Kalbar

Lebih lanjut, Rakiman menekankan bahwa substansi tulisan peserta yang mengangkat isu ekoteologi sangat sejalan dengan arah kebijakan pemeliharaan lingkungan hidup yang didorong oleh otoritas pusat.

“Dan kaitan atau temanya adalah tentang ekoteologi atau tentang lingkungan. Yang mana ini menjadi konsen daripada Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam menjabarkan hasta protes atau delapan program prioritas daripada Presiden Republik Indonesia,” tegasnya.

Refleksi Anak Muda Hadapi Krisis Lingkungan
Buku elektronik ini merupakan kompilasi pemikiran dan esai reflektif langsung dari para peserta perkemahan lintas iman. Marlin, salah satu peserta sekaligus kontributor tulisan, menyatakan bahwa proses penyusunan draf berjalan lancar karena materi yang diangkat bersentuhan langsung dengan keresahan generasi muda hari ini saat berhadapan dengan kerusakan alam.

“Kalau saya, saya merasa sangat senang ya bisa berkontribusi dalam penulisan e-book ini. Karena saya merasa ini adalah refleksi yang berharga untuk saya sendiri. Kalau saya secara pribadi, tidak ada. Tidak ada tantangan khusus. Karena saya merasa semua refleksi saya rilans [relevan] dengan kondisi pada saat ini. Begitu apa lagi kita berbicara tentang ekoteologi, bagaimana pandangan. Saya rasa sangat relevan gitu. Karena sekarang kita menghadapi krisis lingkungan. Sebagai anak muda juga mengalami kecemasan ketika berhadapan dengan isu-isu lingkungan. Kita mengkhawatirkan bagaimana planet kita di masa depan,” urai Marlin.

Senada dengan Marlin, kontributor lain bernama Yosi mengungkapkan bahwa peluncuran wadah literasi digital ini menjadi perwujudan dari rencana jangka panjangnya dalam menyebarluaskan gagasan perdamaian dan lingkungan ke ruang publik yang lebih luas.

“Kalau dari aku sendiri sih, jujur ya, aku dari dulu memang pengen menulis sesuatu hal kemudian hasil dari e-book. Jadi orang-orang bisa baca dari e-book ini,” pungkas Yosi.

(Dayank Ana Sebalu)