Sab, 27/06/26 · 08.15.11
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Cerita Arini Terapkan Pola Asuh Isyarat dan Komunikasi Visual Bersama Dua Anaknya

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Sabtu, 27 Juni 2026 · 12:352 menit baca
Cerita Arini Terapkan Pola Asuh Isyarat dan Komunikasi Visual Bersama Dua Anaknya
Kisah Arini, seorang ibu Tuli di Pontianak, membagikan metode pola asuh alami berbasis komunikasi isyarat dan visual bersama kedua anaknya yang dengar. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Hak Digital Inklusif menggelar jumpa pers guna merekomendasikan kebijakan strategis kepada Pemerintah Kota Pontianak dalam mewujudkan tata kota cerdas (smart city) yang ramah disabilitas. Dalam agenda tersebut, aliansi tersebut menghadirkan Arini (27), seorang ibu rumah tangga sekaligus perajin mahir, untuk membagikan perspektifnya mengenai aksesibilitas dan ruang aman bagi penyandang disabilitas. Momen berharga bagi jurnalis Nusantara Post untuk mendengarkan cerita miliknya, Kamis (25/6/2026).

Dalam sesi perbincangan tersebut, salah satu aspek mendalam yang ia bagikan adalah caranya menembus batas komunikasi di lingkungan rumah, terutama dalam membesarkan buah hatinya.

Pola Asuh Alami Tanpa Metode Oral
Arini menerapkan pola komunikasi visual yang adaptif di dalam rumah tangganya sebagai ibu dari dua anak dengar. Saat ini, anak pertamanya menginjak usia lima tahun, sedangkan anak kedua berusia tiga tahun.

“Ibu, alhamdulillahnya anak-anak itu dengar. Jadi bisa pakai kode dan bahasa isyarat secara alami, secara visual, kayak gitu,” jelas Arini mengenai interaksi harian bersama buah hatinya.

Soroti Permasalahan Pengelolaan MBG dan Kualitas Makanan, Ormas di Pontianak Buka Posko Pengaduan
Baca Juga

Soroti Permasalahan Pengelolaan MBG dan Kualitas Makanan, Ormas di Pontianak Buka Posko Pengaduan

Arini menambahkan, komunikasi di tingkat domestik berjalan efektif tanpa memaksakan metode lisan.

“Jadi tidak oral. Anak-anak itu bisa lihat, oh mamanya tulis, sudah paham, tidak dengar. Jadi kalau mau panggil pakai gestur,” urainya.

Ketika jurnalis mengonfirmasi rentang usia kedua buah hatinya, Arini memberikan rincian lebih lanjut.

“Kalau anaknya dua, anak yang pertama itu umurnya lima tahun, yang kedua umurnya tiga tahun. Bedanya dua tahun,” pungkasnya.

Dikeroyok OTK di Pontianak Timur, Remaja 15 Tahun Alami Patah Tangan: Keluarga Desak Polresta Tangkap Pelaku
Baca Juga

Dikeroyok OTK di Pontianak Timur, Remaja 15 Tahun Alami Patah Tangan: Keluarga Desak Polresta Tangkap Pelaku

Dobrak Isolasi dan Proteksi Berlebih
Dalam sesi wawancara tersebut, Arini mengungkapkan masa lalunya yang sempat terisolasi akibat pola pengamanan protektif dari lingkungan keluarga di masa kecil.

“Aku pengalaman aku dulu sekali, di rumah terus kayak gitu, jadi tidak diizinkan untuk bermain, untuk keluar. Orang tua itu melindungi dengan cara dia tidak mengizinkan untuk bermain keluar. Dan aku ngerasanya itu seperti di penjara, kayak gitu,” kenang Arini.

Kekhawatiran keluarga di masa lalu diakui sempat membatasi ruang gerak dan perkembangannya secara signifikan.

“Jadi harus tetap di zona aman, zona nyaman, nggak boleh main, seperti di penjara, tidak dibebaskan. Jadi wawasannya juga tertutup, tidak boleh kerja, jadi pengalaman juga nggak ada. Nggak ada ngobrol-ngobrol,” lanjutnya.

Namun, keterbatasan masa lalu itu kini berhasil dipatahkan. Melalui ruang advokasi bersama koalisi sipil, Arini kini berani mengambil sikap mandiri untuk keluar dari isolasi sosial dan memperjuangkan kesetaraan hak di ruang publik maupun digital.

“sekarang aku udah berani ngelawan kak,” ujarnya dengan sedikit tertawa sembari menggunakan bahasa isyarat.

Suarakan Hak Disabilitas, Dayta Keluhkan Layanan Publik yang Belum Optimal
Baca Juga

Suarakan Hak Disabilitas, Dayta Keluhkan Layanan Publik yang Belum Optimal

Keahlian Merajut dan Harapan Inklusi
Di samping aktivitas keseharian dan advokasinya, Arini juga menekuni keahlian kerajinan tangan sebagai ruang produktivitas mandiri.

“Saya jago membuat rajut menggunakan benang,” ungkap Arini melalui bahasa isyarat.

Rekomendasi kebijakan dari Koalisi Masyarakat Sipil ini diharapkan menjadi rujukan konkret bagi Pemerintah Kota Pontianak agar pembangunan smart city tidak sekadar bertumpu pada infrastruktur digital, melainkan juga menyentuh keterbacaan fasilitas bagi seluruh warga, termasuk teman-teman disabilitas.

(Dayank Ana)