Pasangan ganda campuran Indonesia, Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu, sukses mencetak kemenangan comeback yang dramatis atas wakil Malaysia, Goh Boon Zhe/Dania Sofea, pada babak 16 besar ajang POLYTRON Pontianak Indonesia Masters Super 100 2026. Dalam laga yang digelar di Pontianak pada Kamis, (3/9/2026), duet Merah Putih tersebut berhasil menyegel tiket perempat final lewat pertarungan tiga match dengan skor ketat 14-21, 22-20, 21-13.
Kemenangan ini tidak diraih dengan mudah. Dejan dan Apriyani harus memutar otak dan merombak taktik di tengah tekanan setelah kehilangan match pertama. Dalam konferensi pers usai pertandingan, Dejan secara terbuka menyoroti kelengahan mereka pada awal laga yang berujung pada agresivitas serangan lawan.
Secara tidak langsung, pemain berusia 26 tahun tersebut mengakui bahwa pasangan Malaysia unggul dalam dominasi area depan net pada awal permainan, yang membuat pertahanan Indonesia terus dibombardir.
“Memang tadi kesulitannya di match pertama, Sofea bermain cukup bagus depannya, berani mengadu jadi posisi kami banyak terserang,” ungkap Dejan Ferdinansyah kepada awak media.
Baca Juga Kendala Cedera Hentikan Chiara di Babak 16 Besar Pontianak Indonesia Masters
Menyikapi kebuntuan tersebut, Dejan dan Apriyani tidak membiarkan diri mereka larut dalam tekanan. Mereka melakukan penyesuaian krusial pada match kedua dengan mengubah orientasi permainan menjadi lebih fokus pada soliditas barisan pertahanan.
“Di match kedua kami coba lebih yakin di defense-nya, jadi walau kami kalah di depan, kami lebih siap posisi bertahannya. Juga ada perubahan strategi yang bisa berjalan dengan baik. Di match ketiga kami lebih nekat, lebih berani memaksimalkan kesempatan yang ada,” papar Dejan menjelaskan transformasi permainannya.
Meski strategi bertahan tersebut terbukti efektif, perjuangan mengamankan match kedua diwarnai oleh drama psikologis di atas lapangan. Apriyani Rahayu membeberkan bahwa situasi kritis sempat terjadi ketika ritme permainan yang sudah mereka kuasai justru goyah akibat kepanikan internal.
Ia menjelaskan secara detail bagaimana ketegangan membuat eksekusi pukulan menjadi terburu-buru hingga memaksa terjadinya adu setting di poin-poin penentuan. Pada momen krusial itulah, kekuatan mental dan pemaksaan aura positif menjadi kunci keselamatan mereka dari kekalahan.
Baca Juga Tembus Perempat Final Dendi Triansyah Tumbangkan Tunggal Putra Vietnam Indonesia Masters 2026
“Di match kedua permainan sudah dipegang tapi kami ada paniknya juga, kurang tenang dan terburu-buru jadi sampai adu setting. Di momen itu kami coba mengembalikan kepercayaan diri, bagaimanapun caranya hawanya harus maksa timbul,” tegas Apriyani.

Laga ini sekaligus menjadi bahan evaluasi penting bagi pasangan Indonesia tersebut, mengingat tren slow start yang kerap membayangi performa mereka sejak pekan lalu. Apriyani dengan tegas menampik anggapan bahwa keterlambatan panas di lapangan dipicu oleh kurangnya kesiapan fisik maupun taktik sebelum bertanding. Ia menggarisbawahi realitas pertandingan yang kerap menghadirkan situasi di luar skenario pelatih.
“Sebenarnya dari awal kami selalu siap dan selalu mengingatkan untuk bermain seperti apa. Jadi kalau dilihat dari pekan lalu selalu slow start, bukan karena kami kurang siap, tapi kadang apa yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang ada di lapangan,” jelas peraih emas Olimpiade tersebut dengan nada reflektif.
Senada dengan pasangannya, Dejan tidak memungkiri bahwa pola permainan yang lambat di awal match menyisakan ruang kekhawatiran. Namun, ia berkomitmen menjadikan hal tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Kemenangan heroik di POLYTRON Pontianak Indonesia Masters 2026 ini tidak hanya sekadar soal angka, melainkan wujud nyata dari mentalitas juara pantang menyerah. Kemampuan Dejan dan Apriyani untuk meredam kepanikan, mengubah kelemahan menjadi benteng pertahanan yang solid, dan bangkit dari ketertinggalan membuktikan kedewasaan mereka dalam menghadapi tekanan di panggung internasional.
(Hendrawan)