Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) di Sanggau menerapkan teknologi mesin pencacah limbah sayur untuk mempercepat efisiensi pengolahan pakan ternak di Kelurahan Bunut, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Jumat, (9/10/2026).
Penerapan mesin perajang mekanis tersebut menyasar sentra peternakan unggas dan ruminansia milik Kamaludin yang mengelola budidaya bebek, kelinci, serta kambing guna memangkas durasi persiapan pakan basah dari sisa hasil pertanian.
Manfaat pengalihan metode manual ke penggunaan mesin mekanis dirasakan langsung oleh peternak setempat, Kamaludin. Efisiensi penyiapan ransum ternak diutarakan dalam pengakuannya.
“Dengan adanya mesin pencacah limbah sayur ini sangat membantu pekerjaan saya di peternakan, terutama dalam mempersiapkan bahan pakan,” kata Kamaludin, Jumat, (9/10/2026).
Sebelum adopsi mesin tersebut, perajangan sisa sayuran dilakukan secara konvensional menggunakan bilah parang yang menyita tenaga dan waktu kerja harian. Peningkatan produktivitas kandang ditegaskan dalam keterangannya.
“Sehingga bisa meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga,” katanya.
Kebutuhan efisiensi waktu kerja di tingkat peternak skala rakyat menjadi latar belakang rancang bangun mesin pemotong tersebut, sebagaimana dipaparkan oleh Ketua Tim Pengabdian Masyarakat PSDKU Polnep Sanggau, Latifah. Kendala pengolahan pakan konvensional diuraikan dalam pemaparannya.
“Selama ini, proses pencacahan yang dilakukan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga yang relatif besar, terutama ketika bahan yang harus diolah tersedia dalam jumlah banyak,” tuturnya.
Selain menekan biaya pakan komersial, instalasi alat perajang ini difungsikan untuk mendaur ulang residu pasar tradisional yang berpotensi mencemari lingkungan menjadi pakan alternatif bernutrisi. Keberlanjutan usaha ternak rakyat dijabarkan dalam penjelasannya.
“Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengelolaan usaha peternakan. Efisiensi dalam proses pengolahan bahan pakan menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan,” imbuhnya.
Guna memastikan peranti pemotong dapat dioperasikan secara terus-menerus, tim akademisi menyertakan pelatihan perawatan mesin dan standardisasi keselamatan kerja. Metode pendampingan teknis kepada peternak mitra dirinci dalam penjelasannya.
“Teknologi yang diterapkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada mitra, yang dalam hal ini pemilik peternakan. Kami tidak hanya memperkenalkan mesin, tetapi juga memberikan pendampingan agar mitra mampu mengoperasikan dan melakukan perawatan mesin secara mandiri,” jelas Latifah.
Pemberian modul operasional, teknik penggantian pisau, dan penanganan mesin langsung di area kandang diharapkan membentuk keterampilan mandiri peternak tanpa bergantung pada teknisi luar. Tujuan akhir dari pelatihan teknis tersebut digarisbawahi sebagai penutup keterangannya.
“Dengan metode tersebut, diharapkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam menggunakan teknologi dapat meningkat sehingga mesin dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan setelah kegiatan PKM berakhir,” paparnya.