Guyuran hujan yang membasahi wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir nyatanya belum mampu menyapu bersih ancaman sisa kebakaran hutan dan lahan. Memasuki pertengahan bulan kritis Agustus, kualitas udara di kawasan Pontianak Tenggara pada Sabtu pagi terpantau masih tertahan di kategori sedang, membuktikan bahwa menipisnya kepekatan kabut asap secara visual tidak serta-merta menjamin ruang napas warga telah sepenuhnya terbebas dari polutan mikroskopis.
Berdasarkan data pemantauan real-time sistem ISPUnet pada pukul 08.00 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat bertengger di angka 87. Partikel debu halus beracun atau Particulate Matter 2.5 (PM2.5) kembali ditetapkan sebagai parameter paling kritis yang mendominasi ruang udara perkotaan di akhir pekan ini.
Hilangnya kabut asap tebal yang biasanya mencolok mata dan mengganggu jarak pandang bukan berarti langit pesisir barat Kalimantan ini telah bersih dari emisi karhutla, melainkan partikel debu pembakaran tersebut kini bersembunyi di balik tingginya kelembapan sisa hujan. Tercatat kelembapan udara di pagi hari mencapai 84 persen, berpadu dengan suhu 28 derajat Celcius dan tekanan udara 1.012 mBar. Kondisi cuaca yang sangat lembap ini secara alamiah menjebak dan mengikat PM2.5 agar tidak terurai terbawa angin, membiarkannya melayang diam di atmosfer permukiman warga.
Sementara PM2.5 masih mendominasi di zona biru, parameter pencemar penyerta lainnya rata-rata bertahan di zona hijau atau kategori baik. Data memaparkan PM10 berada di titik ambang batas bawah pada angka 50, disusul Sulfur Dioksida (SO2) di level 29, dan Ozon (O3) di angka 24. Gas berbahaya lainnya seperti Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) juga terpantau cukup rendah, masing-masing di angka 3 dan 12, dengan Hidrokarbon (HC) mutlak di angka 0.
