Jum, 28/08/26 · 12.41.16
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Dari Kampus ke Gambut Padi Jaya, Kopi Liberika Ditanam Sebagai Harapan Baru

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Jumat, 28 Agustus 2026 · 17:466 menit baca
Dari Kampus ke Gambut Padi Jaya, Kopi Liberika Ditanam Sebagai Harapan Baru
Tim Fakultas Kehutanan Untan dan warga Desa Padi Jaya membentangkan spanduk edukasi kopi Liberika dan konservasi lahan gambut. (Dok. Fakultas Kehutanan)

Sembilan sepeda motor bergerak dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menuju Desa Padi Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis, 27 Agustus 2026. Rombongan membawa 200 bibit kopi Liberika, banner, poster konservasi, proyektor InFocus, dan perlengkapan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Tim sempat berhenti di Jembatan Gantung Munggu Emas untuk beristirahat, membersihkan debu, dan memeriksa kembali logistik. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Padi Jaya, salah satu desa penyangga Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura.

Kegiatan bertema “Edukasi Konservasi Lahan melalui Integrasi Kopi Liberika sebagai Tanaman Multiguna” ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc., QAM., IPU.; Ir. Erianto, M.P., IPU.; dan Dr. Hari Prayoga.

Tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura juga didampingi mahasiswa, yaitu Bang Menvin dan Ridho, serta tenaga kependidikan yang terdiri atas Om Yoga, Om Zuhry, Om Fajar, Om Ervan, dan Om Beron.

Sejak Akademisi di Gambut Desa Padi Jaya, Menyemai Harapan Lewat Kopi Liberika
Baca Juga

Sejak Akademisi di Gambut Desa Padi Jaya, Menyemai Harapan Lewat Kopi Liberika

Masyarakat mengikuti kegiatan sejak doa pembuka, menonton video, penyampaian materi, praktik perbanyakan tanaman, diskusi, hingga penyerahan bibit dan media edukasi.

KOPI YANG SESUAI DENGAN KARAKTER LAHAN

Pemilihan kopi Liberika bukan tanpa alasan. Jenis kopi ini telah dikembangkan pada lahan gambut dan dataran rendah di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jambi, Bengkulu, Riau, dan Kalimantan Barat.

Kementerian Pertanian mencatat bahwa kopi Liberika umumnya ditanam di kawasan rawa dan gambut. Varietas Liberika Meranti 2 juga dikembangkan secara khusus untuk lahan gambut.

Sumber:

Polisi Uji DNA Ungkap Identitas Jasad Bayi Pakaian Dinosaurus di Sungai Kubu Raya
Baca Juga

Polisi Uji DNA Ungkap Identitas Jasad Bayi Pakaian Dinosaurus di Sungai Kubu Raya

Sepanjang perjalanan menuju Padi Jaya, tim melihat banyak kebun masyarakat yang ditumbuhi sawit, pinang, kelapa, dan karet. Tanaman yang sudah ada tidak perlu diganti. Kopi Liberika dapat dimasukkan secara bertahap ke dalam kebun campuran dengan pengaturan jarak, cahaya, dan naungan yang tepat.

Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat menambah sumber pendapatan tanpa membuka lahan baru. Namun, penanaman harus didahului dengan penilaian kondisi lahan, tinggi muka air, jenis tanaman penaung, dan kemampuan petani dalam merawat tanaman.

Kegiatan dimulai dengan menonton video mengenai pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Sambas. Kondisi gambut Sambas dinilai memiliki kemiripan dengan Padi Jaya.

Perbedaannya terutama terlihat pada pengolahan dan pengemasan produk yang sudah lebih maju.

Setelah Sebulan Lebih Karhutla di Kalbar, Presiden Prabowo Akhirnya Tiba Pimpin Rapat Koordinasi
Baca Juga

Setelah Sebulan Lebih Karhutla di Kalbar, Presiden Prabowo Akhirnya Tiba Pimpin Rapat Koordinasi

Pengalaman Sambas menunjukkan bahwa budidaya saja belum cukup. Mutu panen, pengolahan, kemasan, kelembagaan petani, dan akses pasar menentukan nilai ekonomi yang diterima masyarakat.

KONSERVASI DAN PENGHIDUPAN TIDAK PERLU DIPERTENTANGKAN

Prof. Gusti Hardiansyah menyampaikan materi mengenai konservasi lahan, kebun terintegrasi, dan penempatan kopi Liberika sebagai tanaman multiguna. Pesan utamanya tegas: kelestarian lahan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak perlu dipertentangkan.

Keduanya dapat berjalan bersama apabila masyarakat mengelola kebun sesuai karakter lahan dan tidak bergantung pada satu komoditas. Dalam kebun campuran, kopi dapat tumbuh bersama pinang, kelapa, karet, tanaman buah, dan komoditas produktif lainnya.

Ir. Erianto menambahkan bahwa KHDTK Universitas Tanjungpura merupakan amanah untuk pendidikan, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pengelolaannya memerlukan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak kebun serta mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga menghancurkan habitat satwa liar.

Karena itu, pengembangan kopi di lahan gambut harus menggunakan cara yang tidak memperbesar risiko kebakaran.

Direktorat Jenderal Perkebunan menegaskan bahwa penyiapan lahan untuk budidaya kopi dapat dilakukan tanpa pembakaran dan perlu disesuaikan dengan kondisi vegetasi setempat.

Perempuan 50 Tahun Ditemukan Meninggal di Dapur Rumah Pal Sembilan Kubu Raya
Baca Juga

Perempuan 50 Tahun Ditemukan Meninggal di Dapur Rumah Pal Sembilan Kubu Raya

Sumber:

DARI PENGETAHUAN MENJADI KETERAMPILAN

Dr. Hari Prayoga menjelaskan dua pendekatan perbanyakan tanaman, yakni generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif menggunakan biji. Bibit yang dihasilkan dapat memiliki sifat berbeda dari tanaman induknya karena terbentuk melalui penyerbukan dan pembuahan.

Sebaliknya, perbanyakan vegetatif melalui cangkok, okulasi, stek, atau sambung pucuk cenderung mempertahankan sifat tanaman induk. Karena itu, cabang, mata tunas, atau batang atas harus diambil dari pohon yang sehat, produktif, dan memiliki mutu hasil yang baik.

Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan praktik mencangkok dan menyambung tanaman.

Masyarakat melihat cara memilih cabang, mengupas kulit, membersihkan kambium, memasang media cangkok, membungkusnya, dan menjaga kelembapan sampai akar tumbuh.

Pada praktik sambung pucuk, peserta mempelajari cara mempertemukan batang bawah yang berakar kuat dengan batang atas dari pohon unggul. Sambungan kemudian diikat dan diberi sungkup untuk mengurangi kehilangan air selama proses penyatuan jaringan.

Diskusi berlangsung aktif dan tidak terbatas pada kopi Liberika.

Kemarau dan Karhutla, 208 Warga Limbung Kubu Raya Terima Pasokan Air Bersih
Baca Juga

Kemarau dan Karhutla, 208 Warga Limbung Kubu Raya Terima Pasokan Air Bersih

Masyarakat bertanya tentang cara mencangkok, menempel atau okulasi, menyambung, serta memilih mata tunas dari berbagai tanaman yang pernah mereka usahakan.

Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Tim Fakultas Kehutanan membawa dasar ilmiah dan teknik perbanyakan, sedangkan masyarakat menyampaikan pengalaman mengenai tanah, musim, pertumbuhan tanaman, dan persoalan yang mereka hadapi di kebun.

PENYERAHAN BIBIT DAN MEDIA EDUKASI

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan 200 bibit kopi Liberika kepada Kepala Desa Padi Jaya, Yani Hartomo. Bibit tersebut akan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam dan dirawat sebagai langkah awal pengembangan kopi Liberika di desa.

Tim turut menyerahkan banner sosialisasi pencegahan pembakaran lahan dan poster satwa liar yang dilindungi di Kalimantan Barat. Media edukasi tersebut diserahkan untuk kantor kepala desa, sekolah, dan pondok pesantren di sekitar Padi Jaya.

Penempatan poster di ruang publik dan lembaga pendidikan penting agar pesan konservasi tidak berhenti pada peserta yang hadir.

Anak-anak dan generasi muda perlu mengenali orangutan, trenggiling, enggang, beruang madu, serta berbagai satwa lain sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, bukan ditangkap atau diperdagangkan.

Seremoni penyerahan berlangsung sederhana dan akrab, ditemani seruputan kopi Robusta produksi Desa Padi Jaya.

Sajian tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman menanam dan mengolah kopi sebenarnya telah tumbuh di desa. Introduksi Liberika tidak dimulai dari ruang kosong, tetapi melengkapi pengetahuan dan tradisi yang sudah dimiliki masyarakat.

LIMA TAHUN UNTUK MENUMBUHKAN HASIL

Kepala Desa Padi Jaya, Yani Hartomo, telah menjalankan kepemimpinan selama tiga tahun dan masih memiliki lima tahun untuk melanjutkan program pembangunan desa. Jangka waktu itu memberi kesempatan cukup untuk mengubah pembagian bibit menjadi program ekonomi desa yang terukur.

Cegah Asap Dekat Bandara Supadio, Polisi Basahi Satu Hektare Lahan Gambut Kubu Raya
Baca Juga

Cegah Asap Dekat Bandara Supadio, Polisi Basahi Satu Hektare Lahan Gambut Kubu Raya

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 menetapkan masa jabatan kepala desa selama delapan tahun sejak pelantikan.

Sumber:

Namun, 200 bibit tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan. Keberhasilan program bergantung pada kejelasan penerima, kesesuaian lokasi tanam, pemeliharaan, pendampingan teknis, dan pencatatan pertumbuhan tanaman.

Pemerintah desa bersama kelompok masyarakat dapat membangun kebun percontohan, mendata lokasi penanaman, memilih petani penggerak, dan melakukan evaluasi berkala. Sebelum tanaman menghasilkan, desa juga perlu mulai memikirkan pengolahan pascapanen, mutu produk, kemasan, kelembagaan usaha, dan calon pembeli.

Setelah penyerahan bibit dan foto bersama, rangkaian kegiatan diakhiri dengan makan siang bersama di rumah Haji Razali, mertua Kepala Desa Padi Jaya. Pertemuan tersebut menutup kegiatan dalam suasana akrab sekaligus memperkuat hubungan antara tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dan masyarakat.

PKM di Padi Jaya menempatkan bibit sebagai langkah awal, bukan hasil akhir. Ukuran keberhasilannya kelak bukan jumlah bibit yang dibagikan, melainkan jumlah tanaman yang hidup, petani yang mampu memperbanyak bibit secara mandiri, kebun yang terhindar dari kebakaran, serta pendapatan masyarakat yang benar-benar meningkat.

Jika pemerintah desa, masyarakat, dan Universitas Tanjungpura menjaga pendampingan selama lima tahun mendatang, Padi Jaya berpeluang tumbuh sebagai desa kopi Liberika berbasis konservasi. Dari lahan gambut, dapat berkembang usaha yang produktif sekaligus menjaga hutan, satwa, dan masa depan masyarakat.

Oleh:
Gusti Hariansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura

Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.