Jum, 28/08/26 · 12.42.59
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Lingkungan

Sejak Akademisi di Gambut Desa Padi Jaya, Menyemai Harapan Lewat Kopi Liberika

Editor
Editor
Jumat, 28 Agustus 2026 · 18:306 menit baca
Sejak Akademisi di Gambut Desa Padi Jaya, Menyemai Harapan Lewat Kopi Liberika
Potret kebersamaan tim PKM Fakultas Kehutanan Untan bersama warga Desa Padi Jaya. (Dok. HO/TNP)

Sembilan sepeda motor bergerak dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menuju Desa Padi Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis, (27/8/2026). Rombongan membawa 200 bibit kopi Liberika, banner, poster konservasi, infokus, dan perlengkapan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Tim sempat berhenti di Jembatan Gantung Munggu Emas untuk beristirahat, membersihkan debu, dan memeriksa kembali logistik. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Padi Jaya, salah satu desa penyangga Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus Universitas Tanjungpura.

Kegiatan bertema “Edukasi Konservasi Lahan melalui Integrasi Kopi Liberika sebagai Tanaman Multiguna” ini menghadirkan Prof. Gusti Hardiansyah, Ir. Erianto; dan Dr. Hari Prayogo.

Fakultas Kehutanan Untan dan warga Desa Padi Jaya, Kubu Raya, saat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Dari Kampus ke Gambut Padi Jaya, Kopi Liberika Ditanam Sebagai Harapan Baru
Baca Juga

Dari Kampus ke Gambut Padi Jaya, Kopi Liberika Ditanam Sebagai Harapan Baru

Tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura juga didampingi mahasiswa, Ervianus Melvin dan Yanba Rado, serta tenaga kependidikan yang terdiri Dwi Yoga, Zuhry Haryono, Fajar Tanjung, Irvan Gunawan.

Masyarakat mengikuti kegiatan sejak doa pembuka, menonton video, penyampaian materi, praktik perbanyakan tanaman, diskusi, hingga penyerahan bibit dan media edukasi.

Pemilihan kopi Liberika bukan tanpa alasan. Jenis kopi ini telah dikembangkan pada lahan gambut dan dataran rendah di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jambi, Bengkulu, Riau, dan Kalimantan Barat.

Kementerian Pertanian mencatat bahwa kopi Liberika umumnya ditanam di kawasan rawa dan gambut. Varietas Liberika Meranti 2 juga dikembangkan secara khusus untuk lahan gambut.

Polisi Uji DNA Ungkap Identitas Jasad Bayi Pakaian Dinosaurus di Sungai Kubu Raya
Baca Juga

Polisi Uji DNA Ungkap Identitas Jasad Bayi Pakaian Dinosaurus di Sungai Kubu Raya

Sepanjang perjalanan menuju Padi Jaya, tim melihat banyak kebun masyarakat yang ditumbuhi sawit, pinang, kelapa, dan karet. Tanaman yang sudah ada tidak perlu diganti.

Kopi Liberika dapat dimasukkan secara bertahap ke dalam kebun campuran dengan pengaturan jarak, cahaya, dan naungan yang tepat.

Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat menambah sumber pendapatan tanpa membuka lahan baru. Namun, penanaman harus didahului dengan penilaian kondisi lahan, tinggi muka air, jenis tanaman penaung, dan kemampuan petani dalam merawat tanaman.

Kegiatan dimulai dengan menonton video mengenai pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Sambas. Kondisi gambut Sambas dinilai memiliki kemiripan dengan Padi Jaya. Perbedaannya terutama terlihat pada pengolahan dan pengemasan produk yang sudah lebih maju.

Pengalaman Sambas menunjukkan bahwa budidaya saja belum cukup. Mutu panen, pengolahan, kemasan, kelembagaan petani, dan akses pasar menentukan nilai ekonomi yang diterima masyarakat.

Prof. Gusti Hardiansyah menyampaikan materi mengenai konservasi lahan, kebun terintegrasi, dan penempatan kopi Liberika sebagai tanaman multiguna. Pesan utamanya tegas: kelestarian lahan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak perlu dipertentangkan.

Koridor Hutan Terbakar Karhutla, Tiga Orangutan di Ketapang Dievakuasi ke TN Gunung Palung
Baca Juga

Koridor Hutan Terbakar Karhutla, Tiga Orangutan di Ketapang Dievakuasi ke TN Gunung Palung

Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc., QAM., IPU. saat menyampaikan materi mengenai konservasi lahan dan kopi Liberika di hadapan warga Desa Padi Jaya.
Prof. Gusti Hardiansyah saat memaparkan materi konservasi lahan di Padi Jaya. (Dok. HO/TNP)

“Konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di lahan gambut bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan melalui sistem kebun campuran yang produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Gusti Hardiansyah di hadapan para warga dan perangkat desa.

Keduanya dapat berjalan bersama apabila masyarakat mengelola kebun sesuai karakter lahan dan tidak bergantung pada satu komoditas. Dalam kebun campuran, kopi dapat tumbuh bersama pinang, kelapa, karet, tanaman buah, dan komoditas produktif lainnya.

Ir. Erianto menambahkan bahwa KHDTK Universitas Tanjungpura merupakan amanah untuk pendidikan, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pengelolaannya memerlukan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar.

Ir. Erianto, M.P., IPU. berbicara menggunakan mikrofon dalam sesi diskusi program pengabdian masyarakat di Desa Padi Jaya.
Ir. Erianto saat memberikan pemaparan terkait pengelolaan KHDTK Untan di hadapan warga. (Dok. HO/TNP)

“KHDTK Untan hadir sebagai ruang kolaborasi nyata bersama masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, mencegah risiko kebakaran lahan, sekaligus memberdayakan ekonomi warga desa penyangga,” ungkap Ir. Erianto memperkuat pentingnya sinergi lintas sektor.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak kebun serta mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga menghancurkan habitat satwa liar. Karena itu, pengembangan kopi di lahan gambut harus menggunakan cara yang tidak memperbesar risiko kebakaran.

Direktorat Jenderal Perkebunan menegaskan bahwa penyiapan lahan untuk budidaya kopi dapat dilakukan tanpa pembakaran dan perlu disesuaikan dengan kondisi vegetasi setempat.

Dr. Hari Prayoga menjelaskan dua pendekatan perbanyakan tanaman, yakni generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif menggunakan biji. Bibit yang dihasilkan dapat memiliki sifat berbeda dari tanaman induknya karena terbentuk melalui penyerbukan dan pembuahan.

Setelah Sebulan Lebih Karhutla di Kalbar, Presiden Prabowo Akhirnya Tiba Pimpin Rapat Koordinasi
Baca Juga

Setelah Sebulan Lebih Karhutla di Kalbar, Presiden Prabowo Akhirnya Tiba Pimpin Rapat Koordinasi

Dr. Hari Prayoga, S.Si., M.Si. menjelaskan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif kepada warga Desa Padi Jaya.
Dr. Hari Prayoga saat memberikan pelatihan teknis perbanyakan tanaman kopi Liberika. (Dok. HO/TNP)

Sebaliknya, perbanyakan vegetatif melalui cangkok, okulasi, stek, atau sambung pucuk cenderung mempertahankan sifat tanaman induk. Karena itu, cabang, mata tunas, atau batang atas harus diambil dari pohon yang sehat, produktif, dan memiliki mutu hasil yang baik.

“Melalui pelatihan teknis seperti perbanyakan vegetatif ini, kami berharap teori akademis dapat langsung diterjemahkan menjadi keterampilan aplikatif yang mandiri di tangan para petani,” jelas Dr. Hari Prayoga.

Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan praktik mencangkok dan menyambung tanaman. Masyarakat melihat cara memilih cabang, mengupas kulit, membersihkan kambium, memasang media cangkok, membungkusnya, dan menjaga kelembapan sampai akar tumbuh.

Pada praktik sambung pucuk, peserta mempelajari cara mempertemukan batang bawah yang berakar kuat dengan batang atas dari pohon unggul. Sambungan kemudian diikat dan diberi sungkup untuk mengurangi kehilangan air selama proses penyatuan jaringan.

Diskusi berlangsung aktif dan tidak terbatas pada kopi Liberika. Masyarakat bertanya tentang cara mencangkok, menempel atau okulasi, menyambung, serta memilih mata tunas dari berbagai tanaman yang pernah mereka usahakan.

Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Tim Fakultas Kehutanan membawa dasar ilmiah dan teknik perbanyakan, sedangkan masyarakat menyampaikan pengalaman mengenai tanah, musim, pertumbuhan tanaman, dan persoalan yang mereka hadapi di kebun.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan 200 bibit kopi Liberika kepada Kepala Desa Padi Jaya, Yani Hartomo. Bibit tersebut akan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam dan dirawat sebagai langkah awal pengembangan kopi Liberika di desa.

Tim turut menyerahkan banner sosialisasi pencegahan pembakaran lahan dan poster satwa liar yang dilindungi di Kalimantan Barat. Media edukasi tersebut diserahkan untuk kantor kepala desa, sekolah, dan pondok pesantren di sekitar Padi Jaya.

Terancam Karhutla di Ketapang, Empat Individu Orangutan Berhasil Dievakuasi
Baca Juga

Terancam Karhutla di Ketapang, Empat Individu Orangutan Berhasil Dievakuasi

Penempatan poster di ruang publik dan lembaga pendidikan penting agar pesan konservasi tidak berhenti pada peserta yang hadir. Anak-anak dan generasi muda perlu mengenali orang utan, trenggiling, enggang, beruang madu, serta berbagai satwa lain sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, bukan ditangkap atau diperdagangkan.

Seremoni penyerahan berlangsung sederhana dan akrab, ditemani seruputan kopi Robusta produksi Desa Padi Jaya. Sajian tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman menanam dan mengolah kopi sebenarnya telah tumbuh di desa. Introduksi Liberika tidak dimulai dari ruang kosong, tetapi melengkapi pengetahuan dan tradisi yang sudah dimiliki masyarakat.

Kepala Desa Padi Jaya, Yani Hartomo, telah menjalankan kepemimpinan selama tiga tahun dan masih memiliki lima tahun untuk melanjutkan program pembangunan desa. Jangka waktu itu memberi kesempatan cukup untuk mengubah pembagian bibit menjadi program ekonomi desa yang terukur.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 menetapkan masa jabatan kepala desa selama delapan tahun sejak pelantikan.

Namun, 200 bibit tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan. Keberhasilan program bergantung pada kejelasan penerima, kesesuaian lokasi tanam, pemeliharaan, pendampingan teknis, dan pencatatan pertumbuhan tanaman.

Pemerintah desa bersama kelompok masyarakat dapat membangun kebun percontohan, mendata lokasi penanaman, memilih petani penggerak, dan melakukan evaluasi berkala. Sebelum tanaman menghasilkan, desa juga perlu mulai memikirkan pengolahan pascapanen, mutu produk, kemasan, kelembagaan usaha, dan calon pembeli.

Setelah penyerahan bibit dan foto bersama, rangkaian kegiatan diakhiri dengan makan siang bersama di rumah Haji Razali, mertua Kepala Desa Padi Jaya. Pertemuan tersebut menutup kegiatan dalam suasana akrab sekaligus memperkuat hubungan antara tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dan masyarakat.

PKM di Padi Jaya menempatkan bibit sebagai langkah awal, bukan hasil akhir. Ukuran keberhasilannya kelak bukan jumlah bibit yang dibagikan, melainkan jumlah tanaman yang hidup, petani yang mampu memperbanyak bibit secara mandiri, kebun yang terhindar dari kebakaran, serta pendapatan masyarakat yang benar-benar meningkat.

Jika pemerintah desa, masyarakat, dan Universitas Tanjungpura menjaga pendampingan selama lima tahun mendatang, Padi Jaya berpeluang tumbuh sebagai desa kopi Liberika berbasis konservasi. Bermula di lahan gambut, dapat berkembang usaha yang produktif sekaligus menjaga hutan, satwa, dan masa depan masyarakat.

(*Red)