Sen, 24/08/26 · 13.27.06
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Koridor Hutan Terbakar Karhutla, Tiga Orangutan di Ketapang Dievakuasi ke TN Gunung Palung

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Senin, 24 Agustus 2026 · 19:192 menit baca
Koridor Hutan Terbakar Karhutla, Tiga Orangutan di Ketapang Dievakuasi ke TN Gunung Palung
Tim gabungan BKSDA, Balai TANAGUPA, dan YIARI evakuasi tiga individu orangutan yang terjebak karhutla di Ketapang menuju Taman Nasional Gunung Palung. (Dok. YIARI)

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi satu induk dan dua anak orangutan dari perkebunan warga di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Jumat, (21/8/2026).

Penyelamatan terhadap tiga individu orangutan bernama Mama Yuni, Yuni, dan Pura tersebut dilakukan setelah koridor hutan jelajah mereka habis terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Juli hingga Agustus 2026, sehingga satwa liar tersebut terdesak mendekati permukiman.

Dampak jangka panjang karhutla terhadap fragmentasi habitat satwa liar diuraikan oleh Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul.

Menhut dan Gubernur Kalbar Tinjau Karhutla Kubu Raya, Waspadai Puncak El Nino
Baca Juga

Menhut dan Gubernur Kalbar Tinjau Karhutla Kubu Raya, Waspadai Puncak El Nino

“Kasus yang kembali terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran dan perubahan tutupan lahan belum selesai. Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orangutan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia,” ujar Silverius Oscar Unggul, Jumat, (21/8/2026).

Pentingnya penanganan akar masalah melalui perlindungan bentang alam guna mencegah meluasnya konflik satwa dan manusia ditekankan lebih lanjut dalam pernyataannya.

“Kalau kita hanya menyelamatkan orangutan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan. Yang harus kita cegah adalah hilangnya habitat dan terputusnya koridor yang membuat orangutan tidak lagi memiliki ruang aman untuk hidup. Perlindungan orangutan pada akhirnya juga berarti melindungi masyarakat dari konflik dengan satwa liar,” tegasnya.

Adaptive Fire Governance: Dari Pemadaman Menuju Pengelolaan Risiko Lanskap
Baca Juga

Adaptive Fire Governance: Dari Pemadaman Menuju Pengelolaan Risiko Lanskap

Proses pembiusan satwa di tengah kepungan kabut asap memakan waktu hingga delapan jam menggunakan dosis anestesi terukur, sebelum ketiganya dipindahkan melalui perjalanan darat dan air selama lima jam menuju kawasan pelepasliaran di Balai TANAGUPA.

Komitmen pemantauan pascatranslokasi di habitat baru disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto.

“Kami menyambut baik sinergi dan kolaborasi seluruh pihak dalam upaya translokasi ini. Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orangutan. Pasca-pelepasliaran, tim kami di lapangan akan terus memantau pergerakan dan proses adaptasi Mama Yuni, Yuni dan Pura guna memastikan mereka dapat bertahan hidup dengan baik di rumah barunya. Kami berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga kelestarian hutan dari ancaman karhutla demi menyelamatkan satwa endemik kebanggaan kita,” kata Prawono Meruanto.

Pencegahan karhutla secara terpadu di kawasan bernilai konservasi tinggi ditegaskan oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, sebagai kunci menjaga keutuhan ekosistem bagi keberlangsungan hidup manusia maupun satwa endemik.

(Dayank Ana)