Kualitas udara di kawasan Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, resmi menembus kategori ‘Tidak Sehat’ setelah Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melonjak ke angka 106 akibat tingginya konsentrasi polutan Particulate Matter 2.5 (PM2.5) sejak pagi hingga pukul 11.00 WIB, Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan data mutakhir dari sistem pemantauan ISPUnet, status udara Pontianak Tenggara bergeser dari kategori ‘Sedang’ menjadi ‘Tidak Sehat’.
Partikel debu mikroskopis PM2.5 menjadi parameter paling kritis dengan nilai 106, jauh melampaui polutan lain seperti PM10 di angka 64 dan Sulfur Dioksida (SO2) di angka 57. Kondisi sirkulasi udara kian memburuk akibat cuaca terik bersuhu 33 derajat Celsius dengan kelembapan 72 persen.
Grafik pemantauan 24 jam terakhir pada ISPUnet mencatat tren kenaikan PM2.5 secara berproses sejak Selasa (28/7/2026) siang dari skala 87, menembus level 100 pada malam hari, hingga mencapai puncaknya di angka 108 pada Rabu (29/7/2026) pukul 06.00 WIB.
Sementara itu, kawasan penyangga di Kabupaten Kubu Raya sempat mencatatkan nilai ISPU 74 (kategori Sedang) pada Selasa (28/7/2026) pukul 14.00 WIB di tengah suhu mencapai 35 derajat Celsius, namun tetap rentan terdampak akibat dinamika arah angin serta potensi karhutla.
Perubahan zona ini menjadi ancaman ekologis nyata yang berdampak langsung pada fisiologis warga. Sistem peringatan dini ISPUnet merilis peringatan tegas terkait memburuknya kualitas udara tersebut.
“Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia, hewan dan tumbuhan,” tulis pernyataan resmi peringatan dini yang terpampang pada dashboard aplikasi ISPUnet.
Guna meminimalkan risiko kesehatan, aplikasi pemantau cuaca di gawai kini menjadi instrumen mitigasi vital sebelum beraktivitas di luar rumah. Otoritas pemantauan memprioritaskan imbauan bagi kelompok rentan, khususnya penderita asma, untuk secara ketat “mengikuti petunjuk kesehatan untuk asma dan menyimpan obat asma,”.
Bagi penderita penyakit jantung, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan mengingat “gejala seperti palpitasi/jantung berdetak lebih cepat, sesak nafas, atau kelelahan yang tidak biasa mungkin mengindikasikan masalah serius,”.
Sementara bagi masyarakat umum, tingkat paparan di level 106 ini mengharuskan adanya penyesuaian aktivitas harian.
Publik diimbau keras untuk “mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan” demi memotong risiko timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
(Hendrawan)