Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Sempat Diguyur Hujan BMKG Mencatat Kualitas Udara Kubu Raya Masuk Level Berbahaya

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 5 September 2026 · 12:021 menit baca
Sempat Diguyur Hujan BMKG Mencatat Kualitas Udara Kubu Raya Masuk Level Berbahaya
BMKG mencatat kualitas udara di Kubu Raya melonjak ke level Berbahaya dengan PM2.5 capai 289,6 µg/m³, hujan lokal belum mampu bersihkan kabut asap karhutla. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Hujan yang sempat mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Barat pada Jumat malam nyatanya masih belum cukup untuk menyapu bersih kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara di wilayah Kubu Raya justru melonjak ke level “Berbahaya” pada Sabtu (5/9/2026) pagi pukul 09.00 WIB.

Merujuk pada data dari BMKG, konsentrasi Partikulat (PM2.5) di Kubu Raya tercatat berada pada angka absolut 289,6 µg/m³. Angka ini menempatkan kualitas udara setempat pada kategori paling mengancam kesehatan masyarakat.

Asumsi bahwa guyuran hujan secara otomatis membersihkan udara pada pagi menjelang siang ini terbantahkan oleh fakta di lapangan. Hujan lokal yang turun rupanya tidak memiliki intensitas yang cukup signifikan untuk memadamkan seluruh titik api secara total, maupun mencuci partikel polutan yang telah pekat mengendap di lapisan udara bawah.

Kondisi ini menegaskan bahwa Kalimantan Barat belum sepenuhnya terbebas dari kepungan kabut asap. Konsentrasi partikulat halus berukuran 2,5 mikrometer yang dengan mudah dapat menembus sistem pernapasan dalam masih pekat menyelimuti udara pagi.

ISPU Tembus 308 Udara Pontianak Kategori Berbahaya Meski Semalam Diguyur Hujan
Baca Juga

ISPU Tembus 308 Udara Pontianak Kategori Berbahaya Meski Semalam Diguyur Hujan

Fakta bahwa indikator menunjukkan warna hitam dengan status “Berbahaya” pada jam aktivitas warga merupakan alarm kritis. Status ini bukan sekadar fluktuasi angka biasa, melainkan peringatan medis yang jelas: udara terbuka saat ini sangat tidak layak dan berpotensi merusak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Selama eskalasi karhutla di darat belum berhasil ditekan secara menyeluruh, curah hujan ringan hingga sedang terbukti belum bisa diandalkan sebagai solusi tunggal untuk mensterilkan langit Kalimantan Barat dari ancaman polusi mematikan ini.

(Hendrawan)