Sel, 30/06/26 · 09.43.28
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Tekan Kerentanan Iklim, Pemkab Kubu Raya dan Gemawan Dorong Pembangunan Responsif Gender

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 30 Juni 2026 · 15:072 menit baca
Tekan Kerentanan Iklim, Pemkab Kubu Raya dan Gemawan Dorong Pembangunan Responsif Gender
Bappeda Litbang Kubu Raya dan Lembaga Gemawan menggelar dialog multipihak untuk mendorong pembangunan responsif gender dan adaptif iklim bagi perempuan tani. (Dok. Gemawan)

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama Lembaga Gemawan menggelar Focus Group Discussion (FGD) multipihak guna memperkuat mitigasi perubahan iklim melalui pendekatan tata kelola yang responsif gender. Agenda bertajuk “Memperkuat Ketahanan Masyarakat Melalui Pembangunan yang Responsif Gender dan Adaptif terhadap Perubahan Iklim” ini dilangsungkan di Ruang Rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kabupaten Kubu Raya, Senin (29/6/2026).

Langkah strategis ini diambil menyusul tingginya kerentanan bentang alam Kubu Raya yang didominasi kawasan pesisir mangrove dan lahan gambut terhadap anomali cuaca. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan produktivitas sektor pertanian serta menempatkan kelompok perempuan petani sebagai pihak yang paling rentan akibat keterbatasan akses informasi siber iklim.

Transformasi Peran Lewat Pendekatan 3R
Perwakilan dari Perkumpulan Gemawan, Hermawansyah, menjelaskan bahwa dialog ini menjadi instrumen awal untuk mengintroduksi Program Perempuan Petani KUAT (Kepemimpinan, Usaha, Agroekologi, dan Teknologi). Program ini diorientasikan untuk mendorong perubahan sistemik (system change) agar perempuan marginal di tingkat tapak dapat bertransformasi menjadi aktor utama pembangunan ruang publik.

“Kami menggunakan pendekatan 3R, yaitu Rekognisi, Representasi dan Redistribusi. Melalui pendekatan ini, kita memastikan adanya pengakuan atas peran perempuan petani, ruang bagi mereka untuk terlibat dalam keputusan, serta akses yang lebih adil terhadap sumber daya dan informasi iklim,” urai Hermawansyah.

Tujuh Hari Nihil, Operasi Pencarian Pemancing Diduga Diterkam Buaya di Kubu Raya Dihentikan
Baca Juga

Tujuh Hari Nihil, Operasi Pencarian Pemancing Diduga Diterkam Buaya di Kubu Raya Dihentikan

Urgensi penyediaan sistem informasi iklim yang inklusif juga ditekankan oleh perwakilan Gemawan lainnya, Rahmawati. Ia memaparkan bahwa data riil mengenai akurasi musim tanam, prakiraan cuaca ekstrem, hingga deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap kali terlambat menjangkau ekosistem perempuan di wilayah pedesaan.

Rekonstruksi Indikator Angkatan Kerja Perempuan
Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Kubu Raya, Rini Kurnia Solihat, saat membuka agenda resmi tersebut menyoroti perlunya rekonstruksi indikator ketenagakerjaan perempuan di tingkat desa. Menurutnya, banyak aktivitas produktif perempuan tani sejauh ini masih dikategorikan di luar angkatan kerja karena bias persepsi domestik, meski secara riil kontribusi mereka di sektor agroekologi sangat signifikan menyokong ekonomi keluarga.

“Partisipasi perempuan usia 15 tahun ke atas dalam angkatan kerja formal di Kubu Raya tercatat masih rendah karena dominasi pekerjaan domestik. Padahal secara fakta, beban kerja mereka ganda, dari rumah hingga ke lahan. FGD ini menjadi salah satu momentum penting untuk menguatkan peran ekonomi mereka,” tegas Rini.

Menanam Harapan, Merajut Bahasa Hati: Cerita Inklusif dari Rumah Belajar Madani
Baca Juga

Menanam Harapan, Merajut Bahasa Hati: Cerita Inklusif dari Rumah Belajar Madani

Otoritas perencanaan daerah berharap keluaran dari dialog multipihak ini dapat menghasilkan basis data yang valid serta rekomendasi konkret yang dapat diadopsi ke dalam rencana kerja operasional Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Kami berharap program Gemawan ini tidak berjalan sendiri, melainkan dapat berlanjut dan terintegrasi secara berkelanjutan dengan kebijakan strategis daerah,” pungkas Rini.

(Dayank Ana)