Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Induk dan Bayi Orangutan Dievakuasi dari Lahan Karhutla di Kotawaringin Barat

Roska Putra
Roska Putra
Rabu, 28 Oktober 2026 · 10:171 menit baca
Induk dan Bayi Orangutan Dievakuasi dari Lahan Karhutla di Kotawaringin Barat
BKSDA evakuasi induk dan bayi orangutan yang makan umbut nanas di lahan bekas karhutla Kotawaringin Barat untuk jalani pemeriksaan medis. (Dok. Ist)

Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun mengevakuasi seekor induk orangutan bersama bayinya dari kawasan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Kedua satwa dilindungi tersebut sebelumnya ditemukan berada di tengah lahan gosong dan terpaksa memakan umbut nanas akibat hilangnya sumber pakan alami.

Proses evakuasi yang dilakukan di Wana Wiyata Widya Karya, Kilometer 24, Kelurahan Seberang, Kecamatan Arut Selatan, pada Senin, (26/10/2026) sore, dijelaskan secara rinci oleh Kepala SKW II Pangkalan Bun, BKSDA Kalimantan Tengah, Handi Nasoka.

“Orang utan bersembunyi di area dengan pepohonan dan tanaman rambat yang kering akibat terbakar, sehingga proses pembiusan sempat mengalami kesulitan,” ujar Handi Nasoka, seperti dikutip dari detikKalimantan, Selasa, (27/10/2026).

Relawan Karhutla Tanjung Puting Tempuh Jarak Jauh dan Jalan Kaki demi Selamatkan Habitat Orangutan
Baca Juga

Relawan Karhutla Tanjung Puting Tempuh Jarak Jauh dan Jalan Kaki demi Selamatkan Habitat Orangutan

Operasi penyelamatan ini melibatkan unsur WRU BKSDA Kalteng, mitra lembaga konservasi, serta kelompok masyarakat setempat. Induk orangutan yang diketahui bernama Widya berusia 25 tahun dengan bobot 38 kilogram berhasil diamankan bersama anaknya, Wika, yang baru berusia tujuh bulan.

Pemeriksaan kesehatan awal serta tindak lanjut penanganan medis pascaevakuasi diuraikan lebih lanjut oleh pihak BKSDA.

“Saat ini, induk dan bayi orang utan tersebut ditempatkan sementara di kandang transit SKW II Pangkalan Bun. Keduanya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta instruksi lanjutan dari pimpinan untuk menentukan penanganan berikutnya,” kata Handi Nasoka.

Hasil pemeriksaan fisik awal menunjukkan tidak adanya luka bakar pada tubuh kedua satwa tersebut. Meskipun demikian, pengambilan sampel darah tetap dilakukan guna memastikan kondisi kesehatan mereka setelah bertahan hidup di kawasan yang terdampak parah oleh karhutla.

(Roska)