Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Relawan Karhutla Tanjung Puting Tempuh Jarak Jauh dan Jalan Kaki demi Selamatkan Habitat Orangutan

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Rabu, 28 Oktober 2026 · 09:371 menit baca
Relawan Karhutla Tanjung Puting Tempuh Jarak Jauh dan Jalan Kaki demi Selamatkan Habitat Orangutan
Relawan karhutla Tanjung Puting harus tempuh jarak jauh dan jalan kaki hingga nyaris pingsan demi memadamkan api dan menyelamatkan habitat orangutan. (Dok. Ist)

Sejumlah relawan gabungan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, harus menempuh medan berat dengan berjalan kaki demi menjangkau titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pesalat, Taman Nasional Tanjung Puting.

Kondisi fisik relawan yang terkuras akibat jarak tempuh yang jauh serta minimnya sumber air di lokasi kejadian diungkapkan oleh salah satu perwakilan relawan Pelayanan dan Penyelamatan (Peltana), Danson.

“Kami menuju ke sini saja hampir pingsan karena jarak yang terlalu jauh dan harus berjalan kaki,” ujar Danson, seperti dikutip dari detikKalimantan, Rabu, (28/10/2026).

Jarak sumber air atau sungai yang terlampau jauh dari titik api memaksa para personel dari berbagai unsur seperti lembaga konservasi, pemandu wisata, hingga kru perjalanan melakukan pemadaman secara manual. Kendala geografis di lapangan serta tujuan utama operasi penyelamatan ekosistem dijelaskan lebih lanjut olehnya.

Induk dan Bayi Orangutan Dievakuasi dari Lahan Karhutla di Kotawaringin Barat
Baca Juga

Induk dan Bayi Orangutan Dievakuasi dari Lahan Karhutla di Kotawaringin Barat

“Ini pemadaman tanpa air yang kami lakukan ketika air sudah tidak memungkinkan karena jarak yang sangat jauh dari sumber air atau sungai,” kata Danson.

Upaya keras tersebut difokuskan untuk melindungi kawasan rehabilitasi sekaligus pusat pendidikan konservasi yang menjadi rumah bagi satwa dilindungi.

“Kebakaran hutan berpotensi merusak vegetasi yang menjadi sumber pakan dan tempat berlindung orangutan. Karena itu, penanganan api menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan habitat satwa yang hidup di kawasan tersebut,” tuturnya.

Sebagian titik api di kawasan konservasi tersebut dilaporkan mulai mereda setelah diguyur hujan pada Senin, (26/10/2026). Meskipun demikian, pemantauan lanjutan tetap dilakukan untuk mengantisipasi potensi kemunculan titik api baru di tengah ancaman karhutla yang mengintai kelestarian satwa liar.

(Tony)