Tren konsumsi sushi yang kian digemari di Jerman khususnya sebagai makanan cepat saji rendah kalori bagi generasi modern menyimpan sisi gelap di balik rantai pasokannya. Di balik kepraktisan dan kelezatannya, industri sushi global terbukti memicu krisis ekologis, penderitaan hewan dalam budi daya massal, hingga eksploitasi sosial terhadap nelayan tradisional dan pekerja migran.
Permintaan salmon yang melonjak tajam membuat produsen besar di Norwegia dan Kepulauan Faroe menggenjot produksi massal secara intensif.
Namun, praktik ini membawa dampak buruk berupa padatnya populasi ikan di dalam keramba yang memicu wabah kutu laut. Parasit tersebut menggerogoti tubuh ikan, menyebabkan luka terbuka, infeksi, hingga kematian massal.
Manajer Pemasok Kepulauan Faroe, Levi Hansen, mengakui bahwa kutu laut merupakan tantangan besar di industri ini.
Baca Juga Aston Pontianak Resmi Luncurkan “60 Seconds to Tokyo”, Hadirkan Sensasi Autentik Street Food Jepang di Jantung Kota
“Tingkat kematian ikan di tempat kami tergolong rendah dibandingkan dengan yang lain, sekitar 5 sampai 10 persen setiap tahunnya. Umumnya, angka ini ada di sekitar 15 persen,” ujarnya dilansir dari DW (18/8).
Kendati demikian, organisasi lingkungan seperti WWF dan Foodwatch tetap mengecam keras kondisi ini, bahkan mendesak supermarket di Eropa untuk menarik produk salmon dari pasokan industri yang bermasalah akibat tingginya tingkat kematian ikan. Aktivis pelindungan konsumen, Annemarie Botzki, menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan.
“Mengerikan, merusak nafsu makan saya,” ungkapnya setelah melihat rekaman kondisi ikan di keramba.
Tidak hanya berdampak pada alam, rantai pasok industri makanan siap saji ini juga merambah ke sektor ketenagakerjaan yang bermasalah.
Baca Juga Kuliner Malam Pontianak: Menilik Keunikan Nasi Kuning Begadang di Kawasan Reformasi
Di pabrik pengolahan besar milik produsen global seperti Mowi di Polandia yang memproduksi ribuan paket sushi setiap harinya pekerja migran kerap terjebak dalam sistem agensi perekrutan yang merugikan.
David, seorang pekerja asal Kolombia, menuturkan bagaimana sistem tersebut mengeksploitasi mereka.
“Gaji bulanan saya sebenarnya lebih besar, tapi agensi mengambil sebagian, sekitar 20 hingga 25 persen. Mereka menjebak orang-orang ke sini, tapi tidak diberi pekerjaan, dan agen-agen ini hanya memikirkan keuntungan sendiri,” keluhnya.
Sementara itu, komoditas tuna yang menjadi andalan sushi tradisional menghadapi ancaman serius akibat penangkapan berlebihan.
Aktivis investigasi Environmental Justice Foundation (EJF), Steve Trent, mengungkapkan bahwa rantai pasok ini bahkan bersinggungan dengan praktik perbudakan modern di laut lepas.
“Ini berarti seorang konsumen di Berlin, Hamburg, London, atau Paris kemungkinan menikmati ikan yang ditangkap oleh seorang budak,” tegasnya.
Di sisi lain, pembangunan pelabuhan ekspor besar seperti di India untuk memfasilitasi pengiriman tuna beku berkualitas sashimi turut menghancurkan penghidupan nelayan lokal.
Marcos Farose, seorang nelayan tradisional, mengaku kehilangan sumber penghidupannya akibat alih fungsi wilayah pesisir.
“Dulu kami tidak perlu menangkap ikan di perairan dalam. Sekarang mimpi kami terkubur di sini, sangat menyedihkan,” ujarnya lirih.
Di tengah masifnya industri ini, berbagai pihak mulai menyerukan kesadaran konsumen untuk lebih kritis menanyakan asal-usul makanan laut yang mereka konsumsi, atau beralih ke alternatif sushi berbasis nabati guna menjaga keseimbangan ekosistem global.
(Memei)