Kam, 18/06/26 · 19.10.18
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kuliner

Kuliner Malam Pontianak: Menilik Keunikan Nasi Kuning Begadang di Kawasan Reformasi

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 18 Juni 2026 · 23:363 menit baca
Kuliner Malam Pontianak: Menilik Keunikan Nasi Kuning Begadang di Kawasan Reformasi
Warung nasi kuning di Jalan Reformasi Pontianak ini unik karena baru buka malam hari hingga subuh. Simak kisah sukses Muhammad Alif yang raup omzet Rp4 juta semalam. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Jika mendengar kata nasi kuning atau nasi uduk, hal pertama yang melintas di pikiran biasanya adalah menu sarapan pagi. Namun, di kawasan Jalan Reformasi, Pontianak, ada satu warung yang justru sengaja membalik tradisi tersebut. Mereka baru mulai menggelar dagangannya pada malam hari dan beroperasi hingga menjelang subuh.

Saat disambangi pada Selasa (16/6/2026) malam, warung ini tampak ramai dipadati pembeli yang didominasi oleh mahasiswa dan anak muda setempat. Fenomena nasi kuning begadang ini sebenarnya juga marak di beberapa daerah lain di Indonesia. Menu ini kian digemari karena menjadi solusi praktis sekaligus penyelamat perut bagi orang-orang yang masih aktif beraktivitas sampai larut malam.

Berawal dari Keisengan yang Unik
Siapa sangka, ide berjualan nasi kuning tengah malam ini sebenarnya muncul dari ketidaksengajaan. Muhammad Alif, rekan kerja sang pemilik usaha, bercerita bahwa awalnya bersama Muhlyz Anwar selaku pemilik usaha hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari warung-warung makan pada umumnya.

Jadi Tuan Rumah Raker APEKSI Kalimantan, Pontianak Tonjolkan Wisata Kuliner dan Budaya Ngopi
Baca Juga

Jadi Tuan Rumah Raker APEKSI Kalimantan, Pontianak Tonjolkan Wisata Kuliner dan Budaya Ngopi

“Awalnya itu kita iseng-iseng, Bang. Iseng-iseng buka usaha terus kayak penginnya itu yang agak unik-unik gitu. Ini kan kita buka nasi kuning sama nasi uduk. Biasanya nasi kuning atau nasi uduk itu kan dijualnya di pagi hari untuk sarapan. Terus keunikan dari usaha ini, kita bukanya itu dari malam jam 6 sampai ke subuh jam 4,” kenang Alif di sela-sela kesibukannya melayani pembeli.

Pilihan nekat ini ternyata sangat tepat. Lokasinya yang strategis di daerah Jalan Reformasi membuat warung ini langsung menjadi langganan utama para mahasiswa sekitar, terutama mereka yang membutuhkan asupan makanan saat begadang mengerjakan tugas kuliah atau sekadar nongkrong santai.

Menu Pilihan dengan Harga Ramah Kantong
Warung ini menyediakan dua menu utama, yaitu nasi kuning dan nasi uduk. Pilihan lauk yang disediakan meliputi telur sambal, telur goreng, dan ayam goreng. Dari semua kombinasi yang ada, Alif membisikkan satu perpaduan lauk yang paling sering dicari dan menjadi menu paling laris (best seller).

“Yang best seller di sini kita biasanya itu pakai ayam, pakai sambal teri, sama telur balado,” jelasnya.

Masalah harga tidak perlu khawatir. Karena target pasarnya adalah anak muda dan mahasiswa yang suka begadang, harganya pun sengaja dibuat sangat bersahabat bagi kantong pelaku akademik:

Porsi Biasa: Rp10.000

Porsi + Telur: Rp13.000

Porsi + Ayam: Rp15.000

Proses Merintis: Dari 1 Menjadi 8 Termos Nasi
Melihat ramainya pembeli sekarang, bukan berarti perjalanan usaha kuliner ini mulus-mulus saja sejak awal. Alif mengaku sempat melewati fase jatuh bangun di masa-masa awal merintis sebelum akhirnya bisa berkembang pelan-pelan secara konsisten bersama Anwar yang pada saat wawancara ini berlangsung tengah tidak berada di tempat.

“Terutama kalau merintis itu jatuh bangunnya pasti ada, cuma kita kan perlahan gitu. Kayak misalnya baru buka pertama usaha kan satu termos, nanti kalau sudah meningkat kita usahakan tambah termos lagi jadi dua termos satu harinya, sampai seterusnya, Bang,” tambahnya.

Berkat ketekunan itu, skala bisnis mereka kini naik drastis. Jika dahulu di awal buka mereka hanya bermodal satu termos nasi, saat ini warung tersebut bisa menghabiskan hingga 8 termos nasi per hari. Dari kerja keras tersebut, omzet kotor yang bisa dikantongi dalam satu malam operasional kini bisa menyentuh angka sekitar Rp4.000.000.

(Hendrawan)