BNPB merangkum perkembangan bencana nasional per 22 Juli 2026. Kekeringan meluas di Jawa-DIY, karhutla mengancam 4 provinsi, serta penanganan gempa Buol. (Dok. BPBD Kabupaten Banyumas)
Di Pulau Jawa dan DIY, krisis air bersih meluas ke berbagai wilayah. Di Jawa Barat, kekeringan di Kabupaten Bogor yang berlangsung sejak 1 Juli 2026 berdampak pada 16.291 keluarga atau 52.602 jiwa. BPBD setempat mendistribusikan 4.000 liter air bersih ke Desa Hambalang, 2.500 liter ke Desa Gadog, serta 5.000 liter ke Desa Sukajaya.
(Dok. BPBD Kabupaten Banyumas)
Sementara di Jawa Tengah, kekeringan melanda enam kabupaten, meliputi Banyumas yang berdampak pada 2.867 keluarga dengan bantuan 15.000 liter air, Cilacap yang berdampak pada 8.154 keluarga dengan pasokan mencapai 315.000 liter, serta Klaten dengan dampak 3.330 keluarga di mana bantuan air bersih di Kecamatan Kemalang menembus 1,6 juta liter. Krisis air juga dialami 294 keluarga di Sragen, 1.128 keluarga di Grobogan, serta 5.346 keluarga di Pemalang yang dipasok 81.000 liter air bersih dari BPBD dan PMI. Di DIY, kekeringan di Kulon Progo berdampak pada 63 keluarga, di mana 5.000 liter air disalurkan ke Pedukuhan Clapar I.
Guna memperkuat mitigasi kekeringan dan potensi El Nino di daerah rawan, BNPB mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, serta percepatan pipanisasi.
Kebakaran Hutan Meluas di Empat Provinsi
Selain krisis air, karhutla mengancam empat provinsi prioritas. Di Aceh, kebakaran telah melahap 761,68 hektare lahan di 20 kabupaten dan satu kota dengan penanganan fokus pada operasi darat. Di Sumatera Selatan, tercatat 479 kejadian karhutla di 12 kabupaten dengan luas terbakar 664,87 hektare yang ditangani lewat pemadaman darat, patroli udara, water bombing, dan OMC.
Sementara itu di Kalimantan Tengah, luas lahan terbakar meningkat menjadi 889,92 hektare setelah bertambah 37,24 hektare. Adapun di Kalimantan Selatan, luas kebakaran mencapai 39,4 hektare, di mana Pemprov Kalsel masih menetapkan status Siaga Darurat hingga 31 Agustus 2026.
Penanganan Banjir, Longsor, dan Gempa Buol
BNPB juga melaporkan perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi basah dan geologi. Banjir di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terjadi sejak 29 Juni akibat luapan Sungai Arse dan tanggul jebol masih merendam 145 rumah serta memaksa 236 jiwa mengungsi di Gereja HKBP Desa Sipange. Di Nunukan, Kalimantan Utara, tanah longsor sejak 15 Juli masih mengisolasi 460 keluarga atau 1.507 jiwa, di mana bantuan logistik BNPB telah dikirimkan melalui jalur laut dari Tarakan.
Adapun gempa bumi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, yang terjadi sejak 13 Juli mengakibatkan dua orang meninggal dunia, dua luka berat, satu luka ringan, serta merusak 276 rumah dan berdampak pada 193 keluarga. BPBD Buol masih mengevakuasi warga terdampak ke lokasi aman di kawasan Gunung Kali, Gunung Tontoyong, Kelurahan Leok I, dan Kelurahan Kulango.
Atas eskalasi bencana tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memicu penghematan air bersih, serta tidak melakukan pembakaran lahan.