Sab, 01/08/26 · 10.59.23
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Klaim Jakarta Aman Dari Kerusuhan, Pramono Desak Pagar Tinggi Mal Segera Dibongkar

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 1 Agustus 2026 · 16:062 menit baca
Klaim Jakarta Aman Dari Kerusuhan, Pramono Desak Pagar Tinggi Mal Segera Dibongkar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pengelola mal membongkar pagar besi tinggi, sementara APPBI berdalih penataan arus pengunjung. (Dok. Pemprov DKI)

Fenomena pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta memicu polemik antara pemerintah daerah dan pengelola. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendesak agar pagar tersebut segera dibongkar karena dinilai memicu kekhawatiran publik, sementara Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menepis spekulasi ancaman kerusuhan dan berdalih langkah itu murni untuk menertibkan arus pengunjung.

Merespons kehebohan yang bermula dari media sosial tersebut, Pramono menilai tindakan pihak mal sebagai bentuk reaksi berlebihan yang justru merusak kenyamanan warga. Ia menjamin situasi Ibu Kota sepenuhnya kondusif dan telah menyiagakan koordinasi penuh dengan jajaran TNI serta Polri. Pramono juga menampik adanya potensi gangguan keamanan seperti yang dikhawatirkan beberapa pihak pada tahun sebelumnya. 

“Berkaitan dengan pemasangan pagar, saya juga mengamati. Mungkin bagian dari kekhawatiran, tetapi nanti pada saatnya pasti saya akan minta untuk pagar-pagar itu dilepas kembali, mudah-mudahan Jakarta selalu aman, nyaman, dan membuat kegembiraan bagi siapa pun,” tegas Pramono di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026). 

Di sisi lain, Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja membantah keras anggapan bahwa barikade besi dipasang sebagai langkah antisipatif terhadap potensi kerusuhan massal. Menurutnya, pemasangan pagar yang trennya juga mulai merambah mal di Bekasi dan Surabaya ini difokuskan pada manajemen lalu lintas dan mitigasi demonstrasi.

BNPB Catat 34 Kejadian Bencana Didominasi Karhutla dan Kekeringan
Baca Juga

BNPB Catat 34 Kejadian Bencana Didominasi Karhutla dan Kekeringan

Tanpa adanya pagar, Alphonzus menyebut pengunjung bebas keluar-masuk dari sembarang arah yang berisiko mengacaukan lalu lintas jalan raya. Selain itu, pagar dipasang sebagai perimeter pengaman pasif mengingat letak sejumlah mal berdekatan dengan titik kumpul massa aksi.

“Tujuan utamanya adalah supaya lebih menertibkan arus keluar masuk pengunjung. Selain itu, ini untuk memberikan batas perimeter keamanan terhadap demonstrasi yang suka berlangsung di wilayah tertentu. Jadi bukan antisipasi kerusuhan,” jelas Alphonzus di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Benturan dua sudut pandang ini memperlihatkan tarik-ulur yang jelas: pemerintah berupaya keras menghapus stigma tidak aman di ruang publik, sementara sektor bisnis memilih bersikap pragmatis memagari asetnya demi ketertiban operasional.

(Hendrawan)