Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) melonjak menjadi 14 orang hingga Sabtu, (15/8/2026) pukul 12.30 WIB. Selain korban jiwa, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dua orang mengalami luka berat, 11 orang luka ringan, serta puluhan bangunan mengalami kerusakan parah.
Pusat lindu berkedalaman 15 kilometer tersebut berada di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo. Sebaran korban meninggal dunia terkonsentrasi di tiga wilayah, yakni Kabupaten Manggarai sebanyak enam orang, Kabupaten Manggarai Timur lima orang, dan Kabupaten Sikka tiga orang.
Status validasi data di lapangan disampaikan secara resmi oleh otoritas kebencanaan nasional.
“BNPB menyampaikan bahwa data korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait. Setiap perkembangan data akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan,” tulis laporan resmi BNPB.
Dampak fisik di daratan mencatat 54 unit rumah rusak berat, sembilan unit rusak sedang, dan 11 unit rusak ringan. Kerusakan juga melanda fasilitas umum, mencakup lima fasilitas kesehatan, satu sarana pendidikan, satu gudang Bulog, tiga rumah ibadah, serta enam gedung perkantoran pemerintah di berbagai kabupaten terdampak.
Kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Manggarai dengan rincian 29 rumah rusak berat, sembilan rusak sedang, sembilan rusak ringan, lima fasilitas kesehatan, serta satu gedung sekolah terdampak. Di Manggarai Timur, sebanyak 23 rumah mengalami rusak berat. Sementara di Nagekeo, gempa merusak lima rumah, dua rumah ibadah, lima kantor pemerintah, serta menyebabkan pemadaman jaringan listrik dan kemacetan jalan.

Sekitar 2.000 warga dilaporkan mengungsi mandiri ke tempat aman pascaguncangan keras yang berlangsung selama satu menit dan sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dicabut BMKG pada pukul 07.31 WIB. Sedikitnya empat gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,5 hingga 6,2 tercatat melanda kawasan tersebut tanpa potensi tsunami.
Kebutuhan logistik mendesak di wilayah paling terdampak telah diidentifikasi untuk segera disalurkan, mencakup puluhan tenda pengungsi, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, selimut, peralatan dapur, tandon air bersih, serta unit genset.
Kewaspadaan publik terhadap ancaman bahaya runtuhan bangunan di tengah aktivitas seismik susulan kembali ditekankan oleh otoritas penanggulangan bencana.
“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa karena masih terdapat potensi gempa susulan,” imbau pihak BNPB.
(Dayank Ana)