Kementerian Komunikasi dan Digital memperingatkan perubahan pola perekrutan kelompok radikal di ruang digital yang kini menyasar anak-anak dan kelompok rentan melalui pendekatan personal.
Pola perekrutan tidak lagi menggunakan narasi kebencian atau ajakan kekerasan secara terbuka, melainkan diawali dengan bantuan ekonomi, pengobatan, hingga janji kesejahteraan.
Penetrasi pemahaman ekstrem baru disusupkan setelah rasa percaya antara pelaku dan korban terbangun.
“Saya harus tekankan bahwa kekerasan tidak dimulai dengan satu kata jahat. Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem,” ujar Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Rabu, (29/7/2026).
