Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyisipkan kisah jenaka nan reflektif mengenai pengalamannya bermain tenis saat melepas ratusan atlet kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026). Di balik gelak tawa yang mengiringi cerita kekalahannya, terselip pesan kritis dari Kepala Negara bahwa di arena olahraga sejati, kemenangan ditentukan oleh ketangguhan murni, bukan hierarki atau pangkat.
Momen pelepasan yang biasanya kaku mencair ketika Prabowo membandingkan rekam jejak “kejayaannya” di lapangan tenis saat masih aktif di militer dengan realitas yang ia hadapi pasca pensiun. Ia menceritakan keheranannya karena selalu meraih kemenangan tak terkalahkan saat berstatus sebagai komandan, namun justru menjadi bulan-bulanan di lapangan setelah menanggalkan seragam militer.
“Waktu saya jadi komandan, habis itu bener, kalau tenis saya menang terus. Saya menang terus, waktu tenis waktu itu. Begitu saya pensiun, kaget saya, saya kalah terus,” ungkap Prabowo di hadapan para atlet.
Kemenangan semu masa lalunya perlahan terkuak. Prabowo baru menyadari bahwa rekor tak terkalahkannya bukan bersumber dari kehebatan tekniknya, melainkan karena keengganan dan rasa segan anak buahnya untuk menaklukkan sang atasan.

