Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Udara Pontianak Terburuk Tiga Tahun Terakhir Imbas Kepungan Asap Karhutla

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 9 September 2026 · 19:272 menit baca
Udara Pontianak Terburuk Tiga Tahun Terakhir Imbas Kepungan Asap Karhutla
Kualitas udara Pontianak capai kondisi terburuk dalam tiga tahun terakhir akibat kabut asap karhutla, indeks AQI Untan tembus angka 935 di pagi hari. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Ancaman kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbukti mengunci ruang napas publik di Kalimantan Barat, membawa kualitas udara Kota Pontianak sore ini ke titik terburuk dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Memasuki fase kritis, penurunan ketebalan kabut asap pada sore hari tidak serta-merta menjadikan udara kembali steril, melainkan masih menjebak warga dalam kepungan partikel beracun.

Kepala Laboratorium Geofisika serta Sistem Informasi Geografis Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura (Untan), Joko Sampurno, memaparkan bahwa eskalasi pencemaran udara tahun ini melonjak sangat drastis dan membahayakan kesehatan. Berdasarkan data instrumen IQAir yang dioperasikan Lab Geofisika Untan sejak 2024, tren kualitas udara menunjukkan lonjakan pencemaran ekstrem yang bermula sejak Juli dan meroket tanpa kendali sepanjang bulan ini.

Secara faktual, Joko membeberkan bahwa angka pencemaran bahkan pernah menembus rekor fatal melampaui indeks 1.000, jauh di atas ambang batas bahaya yang berada di angka 300. Puncak teror udara beracun ini terekam jelas pada pagi hari, di mana Indeks Kualitas Udara (AQI) menyentuh level 935 di antara pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.

Meski langit sore ini sekilas tampak sedikit lebih terang, angka instrumen pemantau dengan tegas membantah ilusi visual tersebut. Menjelang pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, kualitas udara rupanya hanya turun sedikit.

ISPU Pontianak Tembus Level Berbahaya 797 Asap Pekat Sore Ini Cekik Ruang Napas
Baca Juga

ISPU Pontianak Tembus Level Berbahaya 797 Asap Pekat Sore Ini Cekik Ruang Napas

“Artinya, meskipun kualitas udara pada sore hari telah membaik dibandingkan dengan puncak pencemaran pada pagi hari, udara di Pontianak masih belum aman untuk aktivitas luar ruangan,” tegas Joko merespons kualitas udara kepada Nusantara Post pada Selasa (8/9/2026).

Lebih lanjut, akademisi geofisika ini menyimpulkan bahwa rentetan lonjakan data pencemar ini bukanlah fluktuasi biasa.

“Kondisi ini merupakan kondisi terburuk dalam 3 tahun terakhir. Dengan demikian, kualitas udara saat ini jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” paparnya menyoroti tingkat keparahan krisis tahun ini.

Kenyataan ini menuntut masyarakat Kalbar untuk tidak lengah menanggalkan proteksi pernapasan. Selama titik api belum sepenuhnya padam di wilayah hulu, fluktuasi angka polusi ini akan terus menjadi teror senyap yang merusak fungsi paru-paru secara massal.

(Hendrawan)