Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Nasional

Rekapitulasi Bencana BNPB: Karhutla Dominasi Wilayah Jawa dan Sulawesi

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Senin, 14 September 2026 · 15:333 menit baca
Rekapitulasi Bencana BNPB: Karhutla Dominasi Wilayah Jawa dan Sulawesi
Rekapitulasi bencana BNPB periode September 2026: karhutla dominasi Jawa dan Sulawesi, krisis air di Pemalang, serta longsor terjang Aceh Tengah. (Dok. BNPB)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi kejadian bencana di Pulau Jawa dan Sulawesi dalam periode 13–14 September 2026, dengan luasan terbakar mencapai ratusan hektare di kawasan lereng gunung hingga permukiman, Senin, (14/9/2026).

Operasi pemadaman darat dan udara masih terus digencarkan tim gabungan di kawasan lereng Gunung Butak, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, setelah api menghanguskan sekitar 478 hektare vegetasi sejak Jumat (4/9/2026).

Hingga Minggu (13/9/2026), pantauan petugas mengidentifikasi empat titik api aktif di sektor Blitar dan satu titik api di kawasan Pujon Kidul, dengan proses penanggulangan yang terkendala hembusan angin kencang serta topografi medan yang curam.

Selain Gunung Butak, operasi pendinginan bara api dilakukan tim gabungan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Blok Pengol, Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, yang terhambat kabut tebal hingga wilayah Jarak Ijo.

Karhutla Landa Tujuh Provinsi dan Banjir Rendam Deli Serdang, BNPB Rilis Data Penanganan
Baca Juga

Karhutla Landa Tujuh Provinsi dan Banjir Rendam Deli Serdang, BNPB Rilis Data Penanganan

Di Jawa Tengah, kebakaran seluas 2 hektare terjadi di dekat jalur rel kereta api Desa Bandungharjo, Kabupaten Grobogan, serta 39,25 hektare lahan semak di empat kecamatan Kabupaten Klaten yang dipicu oleh pembakaran serasah sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

Eskalasi kebakaran lahan juga melanda Pulau Sulawesi, yakni terbakarnya 35 hektare lahan di Kabupaten Tojo Una-Una, serta 50 hektare lahan perkebunan dan gambut di Desa Pasir Putih, Kabupaten Poso, yang membakar satu fasilitas pendidikan dan mencederai dua personel pemadam.

Titik api aktif turut dilaporkan membakar 15,5 hektare lahan di tiga kecamatan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, sementara kebakaran bukit terjal di Dusun Bajoe, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dinyatakan telah padam total.

Kekeringan Landa Wajo dan Sinjai, BNPB Rilis Rekapitulasi Bencana di Wilayah Timur
Baca Juga

Kekeringan Landa Wajo dan Sinjai, BNPB Rilis Rekapitulasi Bencana di Wilayah Timur

Krisis Air Bersih Mengancam Tiga Kabupaten
Di tengah lonjakan kebakaran lahan, kemarau panjang memicu penyusutan debit air bersih di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang berdampak pada 10.764 keluarga di 22 desa, dengan distribusi darurat mencapai 173.000 liter air tangki.

Kondisi krisis pasokan air bersih serupa dilaporkan melanda 11 desa di Kabupaten Klaten dengan bantuan 45.000 liter air, serta 50 keluarga di Kabupaten Sidenreng Rappang yang menerima pasokan 4.000 liter air.

Longsor Mematikan dan Banjir Terjang Sumatera
Berbanding terbalik dengan kondisi kekeringan di wilayah timur dan tengah, curah hujan ekstrem di Pulau Sumatera memicu longsor di empat kecamatan Kabupaten Aceh Tengah, yang mengakibatkan satu anak berusia sembilan tahun meninggal dunia, 13 warga terluka, serta menimbun sejumlah ruas jalan nasional.

Di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, hujan berintensitas tinggi menyebabkan banjir luapan di tiga kelurahan dan memaksa 30 warga mengungsi sementara ke Gereja HKBP Sipange sebelum genangan air berangsur surut.

Langkah preventif menghadapi cuaca ekstrem kemarau dipaparkan secara tertulis oleh pihak otoritas kebencanaan nasional. Arahan pencegahan pemicu api serta efisiensi penggunaan cadangan air diuraikan dalam keterangannya.

Kualitas Udara Memburuk, Gubernur Kalbar Didesak Minta Penetapan Bencana Nasional
Baca Juga

Kualitas Udara Memburuk, Gubernur Kalbar Didesak Minta Penetapan Bencana Nasional

“Untuk mengantisipasi kekeringan dan kekurangan air bersih, masyarakat diimbau mengisi cadangan air saat pasokan masih tersedia, menggunakan air sesuai kebutuhan, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta menggunakan kembali air bekas yang masih layak, misalnya air cucian sayur untuk menyiram tanaman. Di tengah kondisi cuaca yang panas dan kering, masyarakat juga agar tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla. Masyarakat diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan dan memastikan bara api telah padam sempurna sebelum meninggalkan lokasi pembakaran.”

Kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat di Aceh, Riau, dan Lampung serta ancaman aktivitas seismik ditegaskan kembali sebagai penutup imbauannya.

“Warga diimbau menyimpan barang dan dokumen berharga di tempat yang lebih aman dari potensi banjir, menyiapkan tas siaga bencana, serta memeriksa jalur evakuasi. BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana geologi, seperti gempabumi, yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Masyarakat diharapkan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD, dan BMKG.”

(Rudi)