Bukan untuk memadamkan kobaran api, enam armada pemadam kebakaran bersama 200 relawan yang terdiri dari aparatur sipil negara (ASN), pelajar, dan komunitas bersatu menyemprotkan 1.900 liter cairan eco enzyme ke dalam parit sepanjang 2,1 kilometer di bentang Jalan Alianyang hingga Pangeran Natakusuma, Jumat (26/6/2026). Aksi kolaboratif dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini menjadi eksperimen ekologis berskala kota pertama di Kalimantan guna memulihkan urat nadi drainase Kota Pontianak yang kian kritis diretas polusi.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, membeberkan fakta memprihatinkan bahwa saat ini lebih dari 70 persen parit di kotanya telah berstatus tercemar parah. Limbah rumah tangga didapuk sebagai penyumbang utama degradasi lingkungan tersebut. Kondisi ini memicu ancaman ekologis yang nyata; tumpukan polutan kerap menimbulkan bau tidak sedap, memperbesar risiko genangan saat siklus pasang surut sungai, hingga mengancam kesehatan masyarakat sekitar.
Merespons urgensi tersebut, penaburan eco enzyme dipilih sebagai langkah intervensi taktis guna mengurai polutan organik di badan air.
“Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah pencemaran lingkungan akibat sampah dan limbah rumah tangga maupun pelaku usaha yang masuk ke parit. Penaburan eco enzyme ini diharapkan membuat parit-parit kota semakin bersih, lebih jernih, dan lebih sehat,” urai Edi Rusdi Kamtono.
Lebih lanjut, Edi menekankan bahwa pelestarian parit ini mutlak membutuhkan transformasi perilaku dari lingkup terkecil. Ia menjelaskan, proses produksi cairan pembersih alami ini sejatinya sangat terjangkau karena murni mengandalkan fermentasi campuran air, gula merah, dan sisa sampah organik dapur. Oleh karena itu, ia mendorong warga untuk memotong rantai polusi langsung dari sumbernya.
“Saya mengimbau kita sama-sama menjaga lingkungan di Kota Pontianak. Tidak membuang sampah sembarangan, tapi buanglah sampah dengan cara terpilah. Kami harapkan warga terbiasa mengelola sampah organik di lingkungan rumahnya secara mandiri, seperti membuat biopori atau eco enzyme,” tegasnya.

Uji Terukur dan Rencana Ekspansi Massal
Dalam intervensi lingkungan ini, Pontianak mencatatkan diri sebagai pionir nasional. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, memaparkan bahwa Pontianak menjadi daerah ketiga di Indonesia setelah Bali dan kawasan Sungai Cisadane yang mengimplementasikan metode eco enzyme secara masif.
Pendekatan inovatif berbasis sains ini dipilih karena cairan fermentasi tersebut difungsikan layaknya ‘pasukan pelindung’ yang membiakkan mikroorganisme baik guna menekan sekaligus membasmi bakteri pencemar.
“Kalau diibaratkan, eco enzyme ini adalah bakteri baik yang akan memakan bakteri jahat. Harapan kita, parit tidak lagi berbau dan kadar oksigennya membaik. Jika kualitas air pulih, otomatis biota air yang sempat hilang akan kembali tumbuh,” jelas Syarif Usmulyono.
Guna menjamin efektivitas program, DLH menerapkan parameter pengujian terukur. Sampel air parit telah diambil persis sebelum ribuan liter cairan ditebar. Evaluasi laboratorium lanjutan akan kembali dilakukan sebulan ke depan untuk meninjau lonjakan kadar oksigen terlarut.
“Nanti setelahnya akan kita ambil sampel lagi untuk dibandingkan hasilnya. Kita butuh waktu satu bulan agar cairan meresap sempurna,” ungkapnya. Apabila eksperimen ini terbukti signifikan menurunkan tingkat pencemaran air, Pemkot Pontianak siap mengekspansi gerakan penaburan “bakteri baik” ini ke enam kecamatan.
Peran Krusial Pelajar
Di balik masifnya suplai cairan pemulih tersebut, terdapat peran krusial generasi muda. Jauh sebelum agenda penaburan, para pelajar dilibatkan langsung untuk memproduksi agen pembersih air ini di sekolah masing-masing bermodalkan racikan sederhana: 3 kilogram sampah organik, 1 kilogram gula merah, dan 10 liter air.
Yaya Ditami, siswi kelas XI SMK Negeri 1 Kota Pontianak, mengaku antusias dapat berkontribusi langsung dalam aksi restorasi ini.
“Saya ikut membuat sekitar 10 botol eco enzyme di sekolah. Menurut saya, cairan ini sangat membantu menjaga kualitas air dan membersihkan zat-zat pencemar di parit,” tuturnya bangga.
Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan ekosistem parit tidak dapat bergantung pada rekayasa biologi semata. Kesadaran kolektif dalam mengelola limbah domestik menjadi kunci penentu agar parit tidak lagi dialihfungsikan sebagai tempat pembuangan akhir, melainkan kembali utuh sebagai identitas kebanggaan Kota Pontianak.
(Hendrawan)