Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Diguyur Hujan, Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Kalbar Masih Kategori Tidak Sehat

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Senin, 28 September 2026 · 19:571 menit baca
Diguyur Hujan, Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Kalbar Masih Kategori Tidak Sehat
Meski hujan mulai turun, BMKG catat kualitas udara Kalbar masih kategori tidak sehat; Polda Kalbar imbau warga kenakan masker dan lindungi kelompok rentan. (Dok. Polda Kalbar)

Hujan yang mulai membasahi sebagian wilayah Kalimantan Barat belum sepenuhnya melenyapkan partikel kabut asap dan konsentrasi polutan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Senin, (28/9/2026).

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak Minggu (27/9/2026) hingga Senin (28/9/2026), tingkat mutu udara di beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan Barat masih berada pada parameter tidak sehat.

Meskipun intensitas hujan mulai membantu pembasahan lahan gambut kering dan meluruhkan partikulat debu secara perlahan, residu asap sisa kebakaran vegetasi terpantau masih mengapung di udara terbuka. Polda Kalbar bersama jajaran kewilayahan terus menyiagakan patroli titik api sembari mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan protokol kesehatan pernapasan.

Langkah perlindungan diri saat beraktivitas di luar rumah dipaparkan oleh Kepala Bidang Humas Polda Kalbar, Bambang Suharyono. Kewajiban penggunaan alat pelindung pernapasan dan larangan pembakaran lahan diuraikan dalam keterangannya.

Enam Hari Tak Masuk Kerja, Pria Paruh Baya Ditemukan Meninggal di Kamar Rumahnya
Baca Juga

Enam Hari Tak Masuk Kerja, Pria Paruh Baya Ditemukan Meninggal di Kamar Rumahnya

“Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara berasap, kami imbau untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan. Kita juga mengajak seluruh masyarakat bersama-sama mencegah Karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan,” ujar Bambang Suharyono, Senin, (28/9/2026).

Perhatian dan mitigasi ekstra diminta diprioritaskan bagi kelompok masyarakat dengan risiko kesehatan tinggi, seperti balita, anak-anak, warga lanjut usia, serta penderita riwayat gangguan sistem pernapasan.

Publik juga diarahkan untuk memantau data resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan prakiraan cuaca berkala sebelum merencanakan agenda luar ruang. Kewaspadaan berkelanjutan terhadap potensi karhutla ditegaskan sebagai penutup pernyataannya.

“Dengan hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah, kualitas udara di Kalimantan Barat diharapkan terus membaik. Namun, kewaspadaan terhadap karhutla dan dampak asap tetap diperlukan hingga kondisi benar-benar aman dan kualitas udara kembali berada pada kategori sehat,” tutup Bambang.

(Rudi)