Kenaikan tarif angkutan kapal motor yang dipicu oleh kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di kawasan pesisir dan kepulauan memantik kritik tajam. Serikat Pemuda Desa secara terbuka menggugat tanggung jawab pemerintah yang dinilai membiarkan masyarakat menanggung beban atas kegagalan tata kelola dan distribusi energi, khususnya di wilayah Padang Tikar dan sekitarnya, Senin (28/9/2026).
Kamerad Serikat Pemuda Desa, Sulthan Daulad Akbar, menegaskan bahwa fenomena lonjakan harga tiket ini tidak boleh dikerdilkan semata-mata sebagai persoalan pembengkakan biaya operasional operator kapal. Menurutnya, akar masalah terletak pada ketidakmampuan negara mendistribusikan kebutuhan dasar secara adil.
“Jika solar langka karena distribusinya tidak mampu menjangkau masyarakat secara memadai, maka jangan sampai kegagalan tata kelola distribusi energi justru dipindahkan bebannya kepada masyarakat melalui kenaikan tarif transportasi,” ungkap Sulthan dalam keterangan resminya.
Bagi masyarakat kepulauan, kapal motor bukan sekadar instrumen mobilitas, melainkan urat nadi sosial-ekonomi. Sulthan memaparkan bahwa kenaikan tarif kapal secara otomatis menciptakan efek domino yang mencekik daya beli warga. Biaya logistik hasil bumi dan tangkapan nelayan melonjak, harga kebutuhan pokok meroket, hingga ongkos untuk mengakses layanan kesehatan dan pendidikan menjadi semakin tak terjangkau.

