Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Budaya

Tim PKM-KC Untan Ciptakan Norjemah Pihtar, Perangkat Penerjemah Bahasa Dayak Serawai Ambalau Berbasis AI

Roska Putra
Roska Putra
Selasa, 15 September 2026 · 15:581 menit baca
Tim PKM-KC Untan Ciptakan Norjemah Pihtar, Perangkat Penerjemah Bahasa Dayak Serawai Ambalau Berbasis AI
Tim mahasiswa PKM-KC Untan Norjemah Pihtar foto bersama Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalbar Juliadi dan jajaran staf. (Dok. HO/Nusantara Post)

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Tanjungpura (Untan) mempresentasikan prototipe inovasi penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia bernama Norjemah Pihtar di Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, Senin (14/9/2026).

Norjemah Pihtar dirancang sebagai perangkat penerjemah suara dua arah secara real-time berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menariknya, alat ini mengusung konsep offline agar dapat diakses tanpa bergantung pada jaringan internet, sehingga cocok diterapkan di wilayah pedalaman yang minim akses sinyal.

Selain memperkenalkan inovasi digital ini, tim mahasiswa Untan turut menggelar User Acceptance Testing (UAT) untuk menguji tingkat penerimaan, kesesuaian, dan validasi fungsionalitas perangkat langsung di lapangan.

Didesak Ratusan Mahasiswa, Rektorat Untan Cabut Skorsing Korban AI Deepfake
Baca Juga

Didesak Ratusan Mahasiswa, Rektorat Untan Cabut Skorsing Korban AI Deepfake

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, Juliadi, menyambut hangat inovasi tersebut.

Ia mengapresiasi tinggi kepedulian generasi muda yang mengawinkan teknologi digital dengan pelestarian bahasa daerah yang jarang tersentuh.

“Alat ini sudah sangat bagus. Kami juga berterima kasih karena sudah mau mengangkat kebudayaan. Tentunya kami dukung penuh atas program ini karena program ini memang sangat luar biasa, apalagi mengangkat bahasa dan budaya yang memang jarang diangkat,” ujar Juliadi.

Juliadi turut menyampaikan ketertarikannya untuk mempraktikkan langsung penggunaan Norjemah Pihtar guna memperdalam wawasannya terkait ragam bahasa Dayak.

Dinilai Janggal Mahasiswa Untan Demo Satgas PPKPT, Sanksi Korban Deepfake Vulgar Lebih Berat dari Pelaku
Baca Juga

Dinilai Janggal Mahasiswa Untan Demo Satgas PPKPT, Sanksi Korban Deepfake Vulgar Lebih Berat dari Pelaku

“Saya juga ingin mencoba dan praktik langsung menggunakan alat ini karena saya ingin tahu banyak bahasa Dayak ini,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan pengembangan, Juliadi menyarankan tim untuk memperluas pangkalan data kata agar penggunaan perangkat makin presisi dan mencakup lebih banyak konteks percakapan.

“Untuk pengembangannya juga boleh ditingkatkan lagi dengan menambah kosakata dan kalimat agar lebih luas,” ujar Juliadi.

Pengembangan alat ini dipimpin oleh Muhammad Zulkifli bersama tiga anggota, yakni Daffa Naufal A’bari, Tarisa Arselia, dan Selsa, di bawah bimbingan dosen Khairul Hafidh.

Seluruh tahapan perancangan hingga pengujian mendapatkan alokasi pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2026. Masukan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalbar akan dijadikan bahan evaluasi utama sebelum perangkat diproduksi dan disebarluaskan.

(roska)