Kolektif seni Studio Kosong menggelar Art Exhibiton bertajuk “Borneo: Rupa Tanah yang Terbakar” di Khira Brew, Jalan Karimata, yang berlangsung pada 4 hingga 10 Oktober 2026. Pergelaran ini hadir sebagai bentuk respons tajam sekaligus kritik sosial terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai makin jauh dari kepedulian masyarakat urban.
Inisiator kegiatan sekaligus anggota Studio Kosong, Wege, menyampaikan bahwa pameran ini digagas untuk memantik refleksi publik. Ia menilai masyarakat kota sering kali menganggap bencana ekologis di hutan sekadar isu berita harian yang lalu-lalang di layar ponsel.
“Ini jadi refleksi bagi kita sih kayaknya, sebagai masyarakat urban yang harusnya hutan itu bukan sekadar bahan scroll-an kita tiap pagi. Hutan itu bukan berita, tapi rasanya kehidupan kita sama kehidupan yang ada di sana itu harusnya sih berkaitan sih,” ujar Wege.
Pameran yang dihelat selama sepekan ini menyajikan lebih dari 20 karya seni rupa kolektif yang terbuka untuk diperjualbelikan. Selain pameran visual, Studio Kosong turut menggandeng komunitas lokal dengan menghadirkan kelas pembuatan zine mandiri dari PTK Zine, cetak pin interaktif oleh District 06, pop-up piercing dari Afterfriend Pierce, serta deretan pertunjukan seni.


