Berbagai Pemuda dan elemen masyarakat sipil Kalimantan Barat menggelar aksi “September Gelap” di Taman Tugu Digulis, Pontianak, pada Rabu (30/9/2026) sore. Aksi yang diwarnai mimbar bebas, pembacaan puisi, dan penyalaan lilin ini tidak hanya menjadi monumen ingatan terhadap korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu, tetapi juga menjadi panggung kritik tajam atas kelalaian pemerintah daerah dalam memitigasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tengah pemborosan anggaran wakil rakyat.
Inisiator aksi, Deray, menjelaskan bahwa peringatan ini menjadi ruang konsolidasi berbagai komunitas termasuk IKAMI Sulsel, Solmadapar, dan LBH untuk merawat ingatan atas rentetan kasus kejahatan negara yang hingga kini mangkrak. Secara spesifik, massa menolak keras wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.
“Kenapa teman-teman menolak Pak Soeharto sebagai pahlawan, karena dia adalah salah satu peran dari pembantaian di tahun 1998. Korban dari September Hitam ini kebanyakan dari peninggalan kejahatan Pak Soeharto itu,” tegas Deray.


