Memasuki akhir pekan, kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, nyatanya belum sepenuhnya merdeka dari kepungan sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Sabtu (8/8/2026) pagi menjelang siang, anomali data justru muncul dari berbagai instrumen pemantau udara. Ketika sistem pemantauan milik pemerintah masih menahan status polusi di ambang batas aman, sejumlah platform pengukur kualitas udara internasional secara gamblang mencatatkan lonjakan partikel debu beracun hingga menembus level ‘Tidak Sehat’.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kabut asap pekat konsisten bertengger menyelimuti wajah kota sejak malam hingga pagi hari. Data pemantauan real-time dari platform indeks kualitas udara pada pukul 08.51 waktu lokal mengonfirmasi kehadiran fenomena ini dengan label “Smoky haze” atau kabut asap. Platform tersebut mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) berada di angka 98 (Sedang) dengan suhu udara 26 derajat Celcius, kelembapan 70 persen, dan kecepatan angin 9,4 km/jam.
Kelembapan tinggi di pagi hari tersebut nyatanya menahan partikel debu halus tidak bisa terbang tinggi, sehingga sisa pembakaran terkurung di ruang napas permukiman warga. Ketimpangan informasi tingkat keparahan polusi ini terlihat jelas dari perbandingan dua dasbor utama yang kerap menjadi rujukan masyarakat.
Rincian Disparitas Data Pemantauan:
