Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Buka Pontianak Biennale 2026, Wali Kota Ajak Seniman Rancang Museum Cagar Budaya

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 26 September 2026 · 12:222 menit baca
Buka Pontianak Biennale 2026, Wali Kota Ajak Seniman Rancang Museum Cagar Budaya
Pontianak Biennale 2026 resmi dibuka dengan melibatkan 41 seniman dunia; Wali Kota Edi Kamtono soroti isu karhutla dan gandeng seniman rancang museum SDN 14. (Dok. Prokopim Pontianak)

Sebanyak 41 perupa lokal, nasional, dan mancanegara memamerkan karya seni rupa kontemporer dalam perhelatan Pontianak Biennale 2026 yang resmi dibuka di Port 99. Pameran seni berkala yang dihelat secara urundaya dan swakelola tersebut mengangkat tema “Arus Pertemuan dan Gelombang” serta dijadwalkan berlangsung selama sebulan penuh, terhitung mulai 25 September hingga 25 Oktober 2026.

Dukungan terhadap keterhubungan ekosistem seni daerah dengan jejaring internasional disampaikan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, saat menghadiri pembukaan pameran pada Jumat (25/9/2026) malam.

Sinergi lintas wilayah para pelaku seni diapresiasi dalam keterangannya.

Lantik Pengurus Tiga Kecamatan, Wali Kota Pontianak Dorong Penguatan Majelis Taklim
Baca Juga

Lantik Pengurus Tiga Kecamatan, Wali Kota Pontianak Dorong Penguatan Majelis Taklim

“Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei,” ujarnya, Jumat, (25/9/2026) malam.

Karya-karya instalasi yang dipamerkan dinilai memotret kegelisahan ekologis masyarakat Kalimantan Barat, terutama terkait ancaman kebakaran lahan serta posisi Sungai Kapuas sebagai urat nadi kehidupan. Daya cipta seniman di tengah bencana kabut asap diulas lebih lanjut dalam keterangannya.

“Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup,” katanya.

Eksplorasi medium seni rupa dinilai mampu menyampaikan pesan kritik lingkungan secara mendalam kepada publik luas. Kekuatan visual dan instalasi bunyi dipaparkan dalam penjelasannya.

Sambangi LPM Warta IAIN Pontianak, PWI Kalbar Tekankan Independensi dan Kontrol Sosial Kampus
Baca Juga

Sambangi LPM Warta IAIN Pontianak, PWI Kalbar Tekankan Independensi dan Kontrol Sosial Kampus

“Semua tampilannya, baik video visual, sculpture maupun lukisan, menggambarkan sesuatu yang menginspirasi. Ini bukan sesuatu yang biasa kita lihat di ruang umum,” ujarnya.

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak berencana menggandeng para perupa untuk merancang tata pamer dan narasi sejarah dalam proyek alih fungsi cagar budaya gedung SD Negeri 14 menjadi museum daerah pada tahun depan. Rencana kolaborasi pemugaran cagar budaya tersebut dibeberkan dalam keterangannya.

“Tahun depan kita akan merehab SD 14 yang merupakan cagar budaya Kota Pontianak dan akan kita jadikan museum. Nanti kita ingin bekerja sama dengan teman-teman seniman untuk membantu mempresentasikan museum itu sehingga bisa bercerita tentang kondisi Kota Pontianak sejak awal hingga hari ini,” ujarnya.

Dari total 41 seniman yang terlibat, sebanyak 22 seniman merepresentasikan Pontianak dan daratan Borneo, empat seniman berasal dari luar Kalimantan, serta 12 seniman internasional datang dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam, dan Thailand. Filosofi kuratorial di balik tajuk pameran diterangkan oleh perwakilan Pontianak Biennale 2026, Gusti Enda.

Sungai Kapuas diposisikan sebagai metafora jalur pertemuan peradaban, kebudayaan, serta perniagaan masa lalu dan masa kini. Harapan atas keberlanjutan ruang dialog kesenian di Kalimantan Barat dirumuskan sebagai penutup keterangannya.

“Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak,” pungkasnya.

Awasi 400 Jalur Tikus Perbatasan, Pemkot Pontianak dan DPR RI Perkuat Penanganan PMI Ilegal
Baca Juga

Awasi 400 Jalur Tikus Perbatasan, Pemkot Pontianak dan DPR RI Perkuat Penanganan PMI Ilegal

Selain di galeri Port 99, rangkaian agenda publik Pontianak Biennale 2026 disebar di Pasar Tradisional Purnama, SDN 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, forum wicara komunal Dapok Warge, Beranda Sinema, tur sejarah “Pontianak Punye Cerite”, Bukumpul Library, hingga program Kids Corner.

(Hendrawan)