Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat merilis 5 indikator strategis terbaru untuk periode Juli dan Juni 2026 . Di satu sisi, Kalimantan Barat mencatatkan rekor inflasi bulanan (month-to-month) tertinggi di Kalimantan sebesar 0,38 persen. Namun, tingginya tekanan harga tersebut nyatanya tidak mematikan urat nadi ekonomi riil daya beli petani justru menguat, sektor pariwisata merangkak naik, dan kinerja ekspor mencetak lonjakan impresif. Fakta strategis ini dibeberkan oleh BPS Kalbar dalam rilis Berita Resmi Statistik secara daring di Pontianak pada Senin (3/8/2026).

Menurut rilis BPS melalui Ketua Tim Kerja Statistik dan Distribusi BPS Kalbar, Sri Suyatmi, laju inflasi Kalbar secara tahunan (year-on-year) telah bertengger di level 3,18 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,66. Pemantik utama lonjakan harga ini bukanlah kelangkaan pasokan kebutuhan pokok pangan, melainkan tersedotnya daya beli masyarakat oleh komponen biaya pendidikan, seperti pembelian seragam dan alat tulis, seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
“Untuk wilayah Kalimantan Barat, inflasi tertinggi di Kabupaten Ketapang sebesar 3,73 persen (yoy) dan IHK 113,90. Inflasi terendah terjadi di Kota Singkawang sebesar 2,70 persen dengan IHK 110,46,” tegas Suyatmi

Meski inflasi memukul pengeluaran rumah tangga perkotaan, fondasi ekonomi di tingkat akar rumput yang menjadi urat nadi perputaran UMKM di desa tidak lantas ambruk. Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Barat pada Juli 2026 justru merangkak naik 0,39 persen menjadi 177,56 poin. Kenaikan ini membuktikan bahwa kehidupan kelas pekerja tani semakin membaik karena penerimaan harga komoditas mereka lebih tinggi dibandingkan biaya beban inflasi yang harus dikeluarkan.
Menguatnya perekonomian petani ini tertolong oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat yang harganya naik 0,74 persen, serta subsektor tanaman pangan yang naik 0,39 persen.
“NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan,” jelas Sri Suyatmi.
Di ranah perdagangan internasional, Kalimantan Barat turut menorehkan angka gemilang yang membantah asumsi pelemahan ekonomi akibat inflasi. Pada Juni 2026, nilai ekspor provinsi ini meroket tajam 29,16 persen dibandingkan Mei, menembus angka 207,53 juta dolar AS. Lompatan devisa ini tidak ditopang oleh ekspor mentah, melainkan oleh industri pengolahan yang berkontribusi sebesar 96,71 persen, khususnya fraksi cair minyak sawit dan produk minyak kelapa sawit olahan. Subsektor perikanan juga menggeliat dengan lonjakan ekspor ikan dan udang mencapai 66,67 persen.
Tidak berhenti pada solidnya ketahanan petani dan ekspor, sektor jasa pariwisata yang sarat akan penyerapan tenaga kerja lokal tidak menunjukkan tren negatif. Sebaliknya, gairah pariwisata justru berangsur pulih. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Barat pada Juni 2026 mencapai 59,21 persen, mengindikasikan kenaikan 10,13 persen poin secara tahunan. Ekspansi mobilitas ini didukung oleh lonjakan fantastis pada angkutan udara domestik yang datang ke Kalbar sebesar 22,55 persen (123.504 orang) dan penumpang angkutan laut yang melesat 47,24 persen.
Secara keseluruhan, konstelasi data makro ini menyoroti satu fakta esensial: meski Kalbar sedang dihantam inflasi puncak pada pertengahan 2026, agresivitas pasar ekspor dan resiliensi daya tukar komoditas petani sukses menjaga keseimbangan struktur ekonomi dari ancaman kelesuan massal.
(Hendrawan)