Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Lingkungan

Populasi Terancam Kritis, Kura-kura Air Tawar Terbesar Asal Borneo Masuk Daftar Merah IUCN

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 18 September 2026 · 12:192 menit baca
Populasi Terancam Kritis, Kura-kura Air Tawar Terbesar Asal Borneo Masuk Daftar Merah IUCN
Berbobot hingga 50 kg, kura-kura byuku endemik Borneo menyandang status kritis IUCN akibat siklus reproduksi lambat dan ancaman perburuan liar. (Dok. Mongabay)

Populasi kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara asal Borneo, kura-kura byuku atau Orlitia borneensis, berada dalam kondisi kritis dan terancam punah di habitat aslinya akibat perburuan liar dan degradasi lingkungan, Jumat, (18/9/2026).

Satwa endemik berbobot hingga 50 kilogram dengan panjang tempurung mencapai 80 sentimeter tersebut saat ini berstatus Critically Endangered (CR) atau Kritis dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Kura-kura yang juga dikenal sebagai bajuku, Malaysian Giant Turtle, atau Bornean River Turtle ini merupakan satu-satunya spesies yang tersisa dari genus Orlitia dalam famili Geoemydidae. Spesies ini pertama kali diklasifikasikan oleh ahli zoologi Inggris, John Edward Gray, pada 1873 silam melalui publikasi ilmiah Annals and Magazine of Natural History. Secara morfologi, satwa air tawar raksasa ini memiliki karapas oval cembung bertekstur halus dengan gradasi warna cokelat gelap hingga hijau kehitaman, serta ditopang tungkai besar berselaput renang dan berkuku cakar panjang.

Darurat Karhutla Sumatera Hancurkan Habitat Gajah Geopix Tuntut Penegakan Hukum Pidana
Baca Juga

Darurat Karhutla Sumatera Hancurkan Habitat Gajah Geopix Tuntut Penegakan Hukum Pidana

Perbedaan jenis kelamin dapat diidentifikasi secara visual dari struktur ekor, yakni individu jantan memiliki ekor yang relatif lebih panjang dan tebal dibanding betina. Bentang habitat alaminya terkonsentrasi di dasar perairan berlumpur atau berpasir, mencakup danau besar, rawa gambut, serta aliran sungai berarus lambat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan, hingga catatan temuan di Thailand Selatan serta Tebat Rasau Geosite Belitung pada 2025.

Sebagai pemakan segala (generalist feeder), satwa ovipar ini mengonsumsi ikan, tumbuhan air, hingga buah-buahan hutan yang jatuh ke sungai. Kerentanan kepunahan spesies dipicu oleh siklus reproduksi yang sangat lambat, dengan masa pematangan bertahun-tahun serta fekunditas rendah yang hanya menghasilkan sekitar sembilan butir telur dalam sekali musim bertelur di timbunan lumpur.

Ancaman kepunahan kian diperberat oleh maraknya perdagangan satwa liar lintas negara untuk bahan baku pengobatan tradisional, sebagaimana terungkap dalam penyitaan kontainer berisi 1.381 ekor kura-kura byuku oleh otoritas Hong Kong pada Desember 2001 silam yang tercatat dalam dokumen CITES.

(Hendrawan)