Sab, 08/08/26 · 18.26.32
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Malam Minggu Kelabu di Pontianak, Kabut dan Bau Asap Karhutla Rusak Suasana Akhir Pekan

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 8 Agustus 2026 · 20:322 menit baca
Malam Minggu Kelabu di Pontianak, Kabut dan Bau Asap Karhutla Rusak Suasana Akhir Pekan
Kabut asap karhutla selimuti Kota Pontianak pada Sabtu malam. Indeks kualitas udara global tunjukkan status buruk meski sistem lokal catat kategori sedang. (Dok. Nusantara Post)

Malam Minggu yang idealnya dihabiskan warga Kota Pontianak untuk bersantai di luar ruangan, kini harus dirusak oleh pekatnya kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Sabtu (8/8/2026) malam. Memasuki siklus krusial di bulan Agustus, kualitas udara Kalimantan Barat nyatanya belum sepenuhnya merdeka dari polusi; diperparah oleh anomali data pemantau udara yang kembali mengecoh publik, di mana aplikasi lokal mencatat status aman sementara pantauan global menyalakan alarm udara ‘Buruk’.

Realitas di lapangan malam ini berbanding terbalik dengan ekspektasi akhir pekan warga. Aroma hangus sisa pembakaran yang cukup pekat menyelimuti ruang-ruang publik, memaksa warga yang tengah menikmati malam minggu untuk menelan kekecewaan. Arza, salah satu anak muda yang sedang menghabiskan waktu di luar, mengeluhkan kondisi udara yang secara langsung merusak agenda akhir pekannya.

“Kalau menurut aku, sebenarnya jadinya kurang ideal buat kegiatan malam mingguan, karena kan biasanya tempat nongkrong atau aktivitas yang dilaksanain itu di outdoor gitu,” keluh Arza.

Ia juga menegaskan bahwa polusi asap ini sangat sulit dihindari bagi warga yang ingin sekadar berjalan-jalan. 

Beda Data Kualitas Udara: ISPU Klaim Pontianak ‘Sedang’, Platform Global Peringatkan Status ‘Tidak Sehat Pada Akhir Pekan
Baca Juga

Beda Data Kualitas Udara: ISPU Klaim Pontianak ‘Sedang’, Platform Global Peringatkan Status ‘Tidak Sehat Pada Akhir Pekan

“Bahkan kalau misalkan kita gak berhenti, kayak misalkan kita jalan-jalan pun pasti kan di ruang terbuka, jadi pastinya itu bakal mengganggu banget kegiatan karena kebanyakan orang pasti gak suka sama bau asap itu,” tambahnya.

Keluhan tajam warga tersebut nyatanya sejalan dengan lonjakan data polusi global malam ini, yang sekaligus menindaklanjuti tren anomali ketimpangan data sejak Sabtu pagi. Berdasarkan pantauan Indeks Kualitas Udara (AQI) pada pukul 20.21 WIB, ruang napas Pontianak secara tegas diberi label ‘Buruk’ (Unhealthy) dengan indeks menyentuh angka 150. Parameter partikel debu halus beracun PM2.5 tercatat menembus 62 µg/m³, berpadu dengan PM10 di angka 64 µg/m³. Kondisi ini diperparah oleh kelembapan malam hari yang tinggi di angka 72 persen, yang secara alamiah mengikat dan menahan partikel asap tetap melayang rendah di level permukiman.

Ironisnya, pada rentang waktu yang sama (pukul 20.00 WIB), aplikasi pemantau pemerintah ISPUnet justru masih bersikukuh menahan status kualitas udara di kategori ‘Sedang’ dengan angka 87. Sistem ini mencatat PM2.5 sebagai parameter kritis di level 87 dan memberikan jaminan keamanan yang relatif longgar bagi warga.

“Tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada Kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan,” tulis keterangan resmi di dasbor ISPUnet.

(Hendrawan)