Malam Minggu yang idealnya dihabiskan warga Kota Pontianak untuk bersantai di luar ruangan, kini harus dirusak oleh pekatnya kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Sabtu (8/8/2026) malam. Memasuki siklus krusial di bulan Agustus, kualitas udara Kalimantan Barat nyatanya belum sepenuhnya merdeka dari polusi; diperparah oleh anomali data pemantau udara yang kembali mengecoh publik, di mana aplikasi lokal mencatat status aman sementara pantauan global menyalakan alarm udara ‘Buruk’.
Realitas di lapangan malam ini berbanding terbalik dengan ekspektasi akhir pekan warga. Aroma hangus sisa pembakaran yang cukup pekat menyelimuti ruang-ruang publik, memaksa warga yang tengah menikmati malam minggu untuk menelan kekecewaan. Arza, salah satu anak muda yang sedang menghabiskan waktu di luar, mengeluhkan kondisi udara yang secara langsung merusak agenda akhir pekannya.
“Kalau menurut aku, sebenarnya jadinya kurang ideal buat kegiatan malam mingguan, karena kan biasanya tempat nongkrong atau aktivitas yang dilaksanain itu di outdoor gitu,” keluh Arza.
Ia juga menegaskan bahwa polusi asap ini sangat sulit dihindari bagi warga yang ingin sekadar berjalan-jalan.
