Rab, 26/08/26 · 08.36.29
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Redam Ego Sektoral, Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Perkuat Harmoni di Pontianak

Memei
Memei
Rabu, 26 Agustus 2026 · 14:062 menit baca
Redam Ego Sektoral, Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Perkuat Harmoni di Pontianak
Wakil Wali Kota Bahasan minta penyuluh agama kikis ego sektoral serta perkuat toleransi dan kerukunan lintas agama di Kota Pontianak. (Dok. Prokopim Pontianak

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan para penyuluh agama untuk mengikis ego kesukuan serta ego keagamaan demi menjaga stabilitas kerukunan di Kota Pontianak, Rabu, (26/8/2026).

Seruan penguatan persatuan tersebut disampaikan dalam pembukaan agenda Dialog Kebangsaan melalui Semangat Lintas Agama yang berlangsung di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak.

Prinsip dasar kesetaraan dan perilaku bermasyarakat diuraikan oleh Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan.

“Kita sudah saatnya tidak ada yang namanya ego agama dan ego suku. Selaku orang beragama dan bersuku bangsa, kita dituntut untuk terus berlomba menunjukkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya, Rabu, (26/8/2026).

Hadiri Maulid dan Haul Akbar di Pontianak, Ria Norsan Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda
Baca Juga

Hadiri Maulid dan Haul Akbar di Pontianak, Ria Norsan Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda

Peran strategis penyuluh agama dinilai sangat krusial sebagai garda depan penyampai pesan keharmonisan hingga tingkat basis majelis taklim dan komunitas warga. Pemanfaatan ruang dakwah dan sosialisasi program pembangunan ditekankan dalam arahannya.

“Saya berharap besar kepada para penyuluh agama. Jika hadir ke majelis, tolong sampaikan edukasi dan sosialisasikan pesan-pesan toleransi serta program pemerintah yang berdampak kepada masyarakat,” pesannya.

Sikap saling menghormati batas keyakinan tanpa merendahkan ajaran agama lain diposisikan sebagai pilar utama kehidupan masyarakat multikultural di Kota Khatulistiwa. Batasan etika dalam memeluk keyakinan dipaparkan lebih lanjut dalam keterangannya.

Tutup Rakorda MUI se-Kalimantan, Edi Kamtono Dorong Kolaborasi Ulama dan Pemerintah
Baca Juga

Tutup Rakorda MUI se-Kalimantan, Edi Kamtono Dorong Kolaborasi Ulama dan Pemerintah

“Agama yang kita peluk adalah yang terbaik menurut pemeluknya masing-masing, tetapi tidak dengan menjelek-jelekkan atau menghina agama orang lain,” jelasnya.

Potret kerukunan nyata di Pontianak dibuktikan dengan berdirinya rumah ibadah yang letaknya saling berdampingan secara damai tanpa friksi selama puluhan tahun. Contoh konkret keharmonisan antarumat di tingkat akar rumput digambarkan dalam keterangannya.

“Di Pontianak Barat, ada gereja dan masjid yang hanya berbatasan dengan satu pagar. Sampai hari ini belum pernah terjadi konflik. Ini menandakan bahwa Kota Pontianak termasuk kota toleran,” katanya.

Ruang lingkup toleransi turut dirinci ke dalam dua dimensi penting, yakni keharmonisan antarumat beragama dan internal sesama pemeluk agama. Klasifikasi dimensi kerukunan sosial diuraikan dalam pemaparannya.

“Toleransi itu ada dua, toleransi di antara umat seagama dan toleransi di antara umat beragama. Ini juga harus dipahami dan diedukasi,” jelasnya.

Penanaman nilai kerukunan sejak dini diposisikan bermula dari ketahanan rumah tangga sebelum meluas ke tingkat nasional. Fondasi awal pembentukan toleransi ditegaskan kembali sebagai penutup pidatonya.

Buka Turnamen Mini Soccer, Wawako Bahasan Siapkan Hadiah Motor dan Puluhan Juta
Baca Juga

Buka Turnamen Mini Soccer, Wawako Bahasan Siapkan Hadiah Motor dan Puluhan Juta

“Toleransi harus dimulai dari keluarga, masyarakat, lintas agama, hingga kebangsaan,” katanya.

(Memei)