Rutinitas awal pekan warga di kawasan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, diwarnai oleh kepungan polusi sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menebal sejak Minggu malam. Pada Senin (3/8/2026) pukul 08.00 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat melonjak tajam menyentuh level 90. Tingginya konsentrasi debu beracun Particulate Matter 2.5 (PM2.5) ini membuat kualitas udara nyaris menembus ambang batas ‘Tidak Sehat’, memaksa masyarakat untuk tidak menyepelekan ancaman polutan pembunuh senyap ini.
Berbeda dengan embun pagi biasa, udara yang menyelimuti kota hari ini membawa partikel sisa pembakaran yang gagal terurai di atmosfer. Berdasarkan pemantauan real-time ISPUnet, angka 90 pada pagi ini merupakan akumulasi dari tren polusi yang tidak mereda sepanjang malam.
Kondisi tersebut justru diperparah oleh dinamika cuaca pagi. Suhu yang tercatat di angka 29 derajat Celcius, berpadu dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi mencapai 80 persen serta tekanan 1.010 mBar. Tingginya kelembapan di pagi hari ini berfungsi layaknya selimut yang mengurung partikel polusi di udara. Akibatnya, parameter polutan PM10 kini juga ikut terseret naik ke zona ‘Sedang’ di angka 53, membuat partikel debu semakin mudah terhirup di area permukiman.
Meski ancaman partikel debu mendominasi, gas pencemar udara lainnya dilaporkan masih tertahan di ambang batas aman atau ‘Baik’. Berikut adalah peta lengkap kualitas udara Senin pagi:
