Rab, 12/08/26 · 07.19.14
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Toko Buku Independen Makelar Buku x Semai Coffee Shop Resmi Buka di Pontianak

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 12 Agustus 2026 · 13:304 menit baca
Toko Buku Independen Makelar Buku x Semai Coffee Shop Resmi Buka di Pontianak
Makelar Buku resmi meluncurkan gerai fisik pertamanya di Gang Sepakat 8 Pontianak. Menghadirkan ruang baca independen, inklusif, dan ramah kantong mahasiswa. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Hiruk pikuk Jalan Dr. Wahidin Pontianak mendadak terasa senyap saat melangkah masuk ke Gang Sepakat 8. Di sudut gang yang tenang itu, sebuah nyala api baru bagi ekosistem literasi dan diskursus anak muda Pontianak baru saja di sulut. Toko buku independen yang selama ini bergerak secara ‘gerilya’, ‘Makelar Buku’, kini resmi menetap dan meluncurkan gerai fisik pertamanya bersama Semai Coffee Shop pada Selasa (11/8/2026).

Kehadiran ruang fisik ini bukanlah sekadar pembukaan toko baru, melainkan sebuah puncak transformasi estafet dari perjalanan panjang. Selama tujuh bulan terakhir, Makelar Buku dikenal sebagai entitas yang hidup nomaden, membuka lapak baca di trotoar acara kesenian, di sela-sela riuh diskusi publik, hingga merambah lapak daring. Kini, jejak-jejak gerilya itu menemukan rumahnya, sebuah oase permanen di tengah dahaga akan ruang baca yang autentik di Kota Khatulistiwa.

Meskipun secara spasial Makelar Buku berkolaborasi dan berdiri berdampingan langsung dengan kedai kopi Semai, ketegasan identitas visual dan ruh pergerakannya tidak memudar. Alih-alih menjadi sekadar pelengkap estetika atau pajangan latar belakang bagi penikmat kopi sebagaimana tren ‘kafe buku’ yang marak belakangan ini, kolaborasi di Gang Sepakat 8 ini murni memposisikan toko buku sebagai entitas utama yang berdaulat, menciptakan sinergi ruang baca dan ‘ngopi kalcer’ yang seimbang.

(Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Max Havelaar dan Sebuah Misi Ramah Pembaca

RSUD SSMA Pontianak Imbau Orang Tua Penuhi Kebutuhan Vitamin A Balita
Baca Juga

RSUD SSMA Pontianak Imbau Orang Tua Penuhi Kebutuhan Vitamin A Balita

Putri Permatasari, pemilik Makelar Buku, mengisahkan bahwa nama tokonya bukan dipilih tanpa alasan. Identitas itu berakar kuat, terinspirasi dari mahakarya klasik Eduard Douwes Dekker, Max Havelaar. Semangat Multatuli dalam menyingkap tabir ketidakadilan melalui literatur menjadi pijakan filosofis yang ingin diteruskan Putri melalui deretan rak bukunya.

“Kami sadar, kedai kopi yang menyediakan buku sebagai pajangan sudah sangat banyak di Pontianak. Namun, misi kami di sini berbeda. Makelar Buku ingin menciptakan ekosistem ruang yang benar-benar ramah dan inklusif bagi para pembaca. Fokus utama kami adalah pada aksesibilitas literaturnya, bukan pada seberapa ‘estetik’ tumpukan bukunya di media sosial,” jelas Putri saat di wawancarai.

Kekuatan Makelar Buku sebagai toko buku independen semakin teruji melalui kurasi literaturnya yang berani namun tetap inklusif. Di satu sisi, toko ini mempertahankan identitas kuatnya dalam menyediakan bacaan kritis genre-genre yang sering dianggap ‘berat’ seperti sejarah, feminisme, politik, hingga isu gender berjejer rapi, menunggu untuk didiskusikan.

Namun, Putri menekankan bahwa inklusivitas adalah kunci untuk merangkul minat baca yang lebih luas. Di gerai fisik ini, rak-rak Makelar Buku juga menyambut literatur mainstream dan buku-buku populer. Strategi ini diambil untuk menepis kesan elitis dan memastikan setiap pengunjung, terlepas dari latar belakang bacaannya, dapat menemukan “dunianya” di sini.

Kejati Kalbar Lepas Peserta Magang FK PKBM ke Dunia Industri
Baca Juga

Kejati Kalbar Lepas Peserta Magang FK PKBM ke Dunia Industri

Lebih jauh, faktor aksesibilitas ekonomi menjadi perhatian serius bagi toko buku yang menyasar mahasiswa dan Gen Z ini. Rentang harga yang ditawarkan dirancang sangat ramah kantong, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp200.000-an

“Kami ingin buku berkualitas tidak menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh kantong pelajar,” tambahnya.

Melawan Intervensi, Suara Lantang Makelar Buku untuk Pembaca

Keberanian Putri membuka toko fisik ini di tengah situasi nasional yang terkadang masih diwarnai preseden buruk pemberedelan atau intervensi lapak baca independen karena dianggap memajang buku-buku “kritis” atau “berhaluan kiri”, menjadi pernyataan sikap yang bernas. Menyikapi kekhawatiran tersebut, Putri memberikan pandangan yang tajam dan tak gentar, mencerminkan objektivitas seorang jurnalis sekaligus kegigihan seorang aktivis literasi.

“Kritis atau tidaknya buku-buku di Makelar itu sangat tergantung pada asumsi pengunjung dan pembacanya sendiri. Kami tentu turut prihatin dengan adanya toko buku atau lapak baca di daerah lain yang diintervensi oleh pihak-pihak tertentu yang mungkin tidak memahami konteks bacaan tersebut. Namun, bagi Makelar, insyaallah kami tidak takut. Karena kami secara objektif cuma menjual buku, menjual pengetahuan. Dan biasanya, sejarah membuktikan, pihak yang melakukan intervensi itu justru pihak yang tidak membaca buku,” tegas Putri secara objektif.

(Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Oase Bagi Mahasiswa: “Ini Bukan Toko Buku Biasa”

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Sebut Eksekusi Pemisahan Anggaran MBG Ditunda Ke 2028 Sarat Manuver Politik 2029
Baca Juga

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Sebut Eksekusi Pemisahan Anggaran MBG Ditunda Ke 2028 Sarat Manuver Politik 2029

Keputusan Makelar Buku untuk membuka ruang fisik tampaknya menjadi jawaban yang sangat dinantikan oleh komunitas pembaca di Pontianak, khususnya mahasiswa. Defria Puspita, salah satu mahasiswi yang berkunjung pada hari pembukaan, mengaku terkejut dan antusias dengan kurasi koleksi Makelar Buku.

“Sebagai pengunjung yang baru pertama kali ke sini, yang paling mencolok buatku adalah bookstore-nya. Jujur, ini bukan toko buku biasa. Buku-bukunya sangat menarik dan koleksinya tidak ditemukan di jaringan toko buku besar arus utama. Di sini ada terbitan Marjin Kiri atau buku-buku lama yang langka. Bahkan buku soal feminisme seperti karya Soe Tjen Marching juga ada, padahal biasanya sangat susah dicari di tempat lain di Pontianak,” jelas Defria semangat.

(Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Keberadaan ruang kolaborasi yang menonjolkan keberadaan toko buku ini juga diapresiasi pengunjung lain seperti Riduan Hakim dan Julio, yang merasa Makelar Buku memberikan nuansa intelektual yang membumi bagi budaya nongkrong.

“Sangat jarang kita melihat sebuah ruang nongkrong yang benar-benar diiringi oleh keberadaan ruang belajar yang melahirkan pemikiran luas. Keberadaan buku-buku pergerakan di rak-rak ini menurut kami sangat selaras dan relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Sangat cocok untuk anak muda yang ingin berdiskusi santai di tengah kepungan buku, bukan sekadar nongkrong kosong,” ujar Riduan.

Melalui gerai fisik di Gang Sepakat 8 ini, Makelar Buku membawa misi sederhana namun esensial: menjadi wadah permanen di mana masyarakat, khususnya pemuda Pontianak, dapat menemukan dunia yang lebih luas lewat aktivitas membaca yang autentik. Bagi pengunjung yang baru ingin merintis hobi membaca, Putri merekomendasikan tiga judul buku yang wajib dicari di Makelar Buku: Max Havelaar karya Multatuli, Seri Buku Tempo: Sarwo Edhie, dan Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez.

(Hendrawan)