Dampak kebakaran hutan dan lahan mulai memicu pergeseran tren penyakit pernapasan yang lebih serius di Kalimantan Barat. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso mencatat adanya peningkatan signifikan pada kasus infeksi paru berat atau pneumonia selama periode puncak kemarau, yang bergulir sejak awal Agustus hingga akhir September.
Direktur Utama RSUD dr. Soedarso Pontianak, Hary Agung Tjahyadi, pada saat ditemui setelah kegiatan peresmian RS Mata Ayani memaparkan bahwa berdasarkan data survei epidemiologi rumah sakit pada minggu ke-32 hingga ke-37, terjadi pergerakan kasus pernapasan yang patut menjadi atensi. Meski kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara umum tampak fluktuatif tanpa lonjakan ekstrem, fasilitas kesehatan rujukan Tipe A ini justru mulai menerima pasien dengan tingkat infeksi yang jauh lebih berat.
“Kalau dari kita lihat data epidemiologi dari minggu ke-32 sampai ke-37, dari dampak karhutla memang ada beberapa penyakit yang kita identifikasi dan kita lihat perkembangannya,” ujar Hary Agung, Sabtu (26/9/2026).
Ia menjelaskan ketiadaan lonjakan ISPA di RSUD dr. Soedarso lebih dikarenakan kasus-kasus ringan masih tertangani dengan baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik pratama. Namun, ancaman sebenarnya bergeser pada infeksi yang mengancam paru-paru.
