Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Wako Edi Resmikan Rumah Sakit Mata Ayani, Dorong Tren Pengobatan di Dalam Negeri

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 26 September 2026 · 15:532 menit baca
Wako Edi Resmikan Rumah Sakit Mata Ayani, Dorong Tren Pengobatan di Dalam Negeri
Wali Kota Pontianak Edi Kamtono resmikan RS Mata Ayani guna tekan tren warga berobat ke Kuching; soroti tantangan anggaran APBD untuk pertahankan UHC 98 persen. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Kehadiran fasilitas kesehatan berstandar modern di Kota Pontianak memicu ambisi pemerintah daerah untuk menghentikan tren masyarakat yang kerap mencari pengobatan ke luar negeri. Peresmian Rumah Sakit (RS) Mata Ayani pada Sabtu (26/9/2026) dinilai menjadi momentum strategis untuk membalikkan arus pasien dari Kuching, Malaysia, kembali ke ibu kota Provinsi Kalimantan Barat tersebut.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa status Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan harus berbanding lurus dengan ketersediaan infrastruktur medis yang mumpuni. Ia menargetkan fasilitas kesehatan berkelas spesialis mampu menghapus ketergantungan warga berobat ke negara tetangga.

“Kalau selama ini warga ke Kuching misalnya, nah sekarang justru kebalikannya. Harapan kita seperti itu. Dan tentu ini sangat membantu sesuai visi tingkat kesehatan masyarakat berkualitas dan semakin lebih baik,” tegas Edi usai acara peresmian.

Menurut Edi, RS dengan peralatan canggih dan ditangani oleh dokter spesialis berpengalaman memberikan dampak signifikan bagi layanan publik. “Alhamdulillah dengan banyaknya rumah sakit di sini, apalagi yang berkelas spesialis, ini sangat membantu kualitas kesehatan warga. Tidak hanya Kota Pontianak, tapi juga warga Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis
Baca Juga

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis

Menjawab tantangan tersebut, Pemilik RS Mata Ayani, Mohamad Subuh, memastikan fasilitas yang dibangun sejak 2023 di atas lahan seluas 2.000 meter persegi ini menargetkan pelayanan berstandar nasional. Meski memiliki kekuatan utama pada spesialisasi mata, pihaknya turut menyiapkan layanan medis pendukung guna merespons regulasi kesehatan yang terus berkembang.

“Pelayanan mata tetap menjadi kekuatan kami, tetapi sesuai perkembangan aturan, rumah sakit juga harus membuka dan menyiapkan pelayanan-pelayanan lain,” jelas Subuh.

Layanan tambahan tersebut mencakup penyakit dalam, THT, anestesi, hingga radiologi. Subuh juga menggarisbawahi komitmen rumah sakit dalam memperkuat pendekatan preventif, tidak sekadar kuratif. Langkah ini diwujudkan melalui penjaringan mata juling pada anak serta pemeriksaan bagi penderita diabetes dan hipertensi. 

Kabut Asap Picu Kenaikan Infeksi Paru Berat di RSUD Soedarso Pontianak
Baca Juga

Kabut Asap Picu Kenaikan Infeksi Paru Berat di RSUD Soedarso Pontianak

“Karena itu, kita ingin pelayanan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pencegahan,” tambahnya.

Di balik optimisme pengembangan rumah sakit modern, Pemkot Pontianak nyatanya tengah menghadapi ujian berat dalam mempertahankan layanan kesehatan dasar masyarakat. Edi mengakui bahwa pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat sangat berdampak pada pembiayaan BPJS Kesehatan.

Pemerintah kota kini harus memutar otak agar Universal Health Coverage (UHC) prioritas tetap bertahan di angka 98 persen. Anggaran yang dibutuhkan tidak main-main, mencapai seratus miliar rupiah untuk membiayai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi sekitar 696 ribu penduduk Pontianak.

“Sangat berpengaruh ya. Karena kan kita harus menganggarkan cukup besar minimal 80 sampai 100 miliar. JKN kan selain ditanggung oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Sosial, juga ditutup dari dana APBD Kota Pontianak,” papar Edi secara kritis.

(Hendrawan)