Fenomena alam langka terjadi di Camp Tim Roberts, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Seekor induk bekantan (Nasalis larvatus) dari kelompok Alpha dilaporkan melahirkan sepasang anak kembar pada pertengahan Juni 2026.
Penemuan tersebut disambut oleh para peneliti setempat, termasuk ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, yang mengamati momen langka ini setelah lebih dari 10 tahun berfokus pada upaya pelestarian bekantan.
Kelahiran bayi kembar ini menarik perhatian di kalangan akademisi serta pemerhati satwa internasional. Secara ilmiah, bekantan memiliki karakteristik fisik yang spesifik, seperti hidung besar ikonik, wajah tanpa rambut, ekor sepanjang 59–76 sentimeter, serta perbedaan bobot mencolok antara jantan yang mencapai 16–22 kilogram dan betina seberat 7–12 kilogram.
Saat ini, populasi satwa endemik tersebut semakin terbatas di habitat rawa atau muara sungai akibat laju deforestasi. Di Indonesia, kantong populasi bekantan selain di Barito Kuala berada di Taman Nasional Gunung Palung (Kalimantan Barat), Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), serta kawasan Sungai Mahakam dan Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur).
