Sen, 22/06/26 · 14.58.16
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Selatan

Sepasang Bayi Bekantan Kembar Lahir di Pulau Curiak Kalimantan Selatan

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 22 Juni 2026 · 20:342 menit baca
Sepasang Bayi Bekantan Kembar Lahir di Pulau Curiak Kalimantan Selatan
Kelahiran Bekantan Kembar Pulau Curiak, Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah, Konservasi Bekantan ULM Amalia Rezeki, Status Endangered IUCN Nasalis Larvatus, Perlindungan Habitat Mangrove Barito Kuala. (Public Domain Pictures/Pixabay)

Fenomena alam langka terjadi di Camp Tim Roberts, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Seekor induk bekantan (Nasalis larvatus) dari kelompok Alpha dilaporkan melahirkan sepasang anak kembar pada pertengahan Juni 2026.

Penemuan tersebut disambut oleh para peneliti setempat, termasuk ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, yang mengamati momen langka ini setelah lebih dari 10 tahun berfokus pada upaya pelestarian bekantan.

Kelahiran bayi kembar ini menarik perhatian di kalangan akademisi serta pemerhati satwa internasional. Secara ilmiah, bekantan memiliki karakteristik fisik yang spesifik, seperti hidung besar ikonik, wajah tanpa rambut, ekor sepanjang 59–76 sentimeter, serta perbedaan bobot mencolok antara jantan yang mencapai 16–22 kilogram dan betina seberat 7–12 kilogram.

Saat ini, populasi satwa endemik tersebut semakin terbatas di habitat rawa atau muara sungai akibat laju deforestasi. Di Indonesia, kantong populasi bekantan selain di Barito Kuala berada di Taman Nasional Gunung Palung (Kalimantan Barat), Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), serta kawasan Sungai Mahakam dan Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur).

Taman Budaya Kalsel Upayakan Seni Topeng Banjar Masuk Kurikulum Sekolah
Baca Juga

Taman Budaya Kalsel Upayakan Seni Topeng Banjar Masuk Kurikulum Sekolah

“Kelahiran ini cukup menarik perhatian akademisi dan pegiat konservasi di dunia. Jenis bekantan ini juga sebelumnya menjadi perbincangan di kalangan pemerhati satwa karena statusnya yang terancam punah menurut Lembaga Konservasi Internasional (IUCN),” kata ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki.

Ancaman Populasi dan Urgensi Regulasi Habitat
Kelahiran bayi kembar ini terjadi di tengah kondisi populasi bekantan yang kritis akibat tekanan deforestasi, kebakaran hutan, alih fungsi lahan mangrove, dan aktivitas perburuan liar. Satwa ikonik Kalimantan ini berstatus Terancam Punah (Endangered) berdasarkan daftar merah IUCN, sehingga kehadiran dua individu baru di Pulau Curiak menegaskan pentingnya perlindungan habitat rawa secara cepat.

“Bekantan dulunya banyak ditemui di Kalimantan. Namun, kelangsungan hidup mereka kini terancam karena habitat yang semakin berkurang dan perburuan ilegal,” jelas Amalia Rezeki.

Peristiwa reproduksi langka ini menjadi momentum yang mendorong desakan nyata bagi pemangku kebijakan untuk memperkuat intervensi regulasi demi melindungi sisa habitat primata endemik Kalimantan tersebut agar dapat tumbuh dan lestari di tanah Borneo.

(Hendrawan)